Gebrakan Sylvia Sumarlin dkk. Kembangkan Industri Chipset

Semangat “Indonesia Bisa” tampaknya ikut melecut mental Sylvia W. Sumarlin dan Rudy Hari untuk berani mengembangkan bisnis chipset WiMax di Indonesia. Bagaimana tidak! Tenaga ahli chipset kelas dunia sebenarnya juga ada di sini. Tak sedikit ahli chipset design di beberapa perusahaan chipset dunia merupakan engineer asal Tanah Air.

by a. mohammad bs & moh. husni mubarak

Di antara mereka adalah Trio Adiono, yang berasal dari ITB memiliki pengalaman bekerja di  Chip Design House di Fukuoka, Jepang, yang bertanggung jawab menangani chip design beberapa perusahaan multinasional. Nama lainnya adalah Eko Fajar Nurprasetyo, yang menjadi Distinguished Senior Engineer di Sony Semiconductor, Jepang.

Hal lain yang turut membakar semangat pasangan Sylvia dan Rudy adalah prospek bisnis chipset WiMax yang cukup menjanjikan. “Industri WiMax punya potensi sangat menarik, tidak hanya di Indonesia tapi juga di tingkat global. Jadi, kami ingin menjadi perusahaan pemasok chipset, baik untuk pasar Indonesia maupun pasar global,” ujar Sylvia penuh semangat.

Melihat prospek tersebut, sejoli ini pun mengajak Trio dan Eko untuk mendirikan perusahaan yang akan menggarap bisnisnya. Pada 2007, dibentuklah PT Xirka Silicon Technology, dengan investasi awal Rp 20 miliar. Pembagian wewenang dan tugas pun  ditentukan: Rudy sebagai chairman, Sylvia sebagai chief executive officer, Trio sebagai  direktur chipset design, dan Eko sebagai direktur pengembangan bisnis. Kuartet ini masih didukung tenaga ahli sekitar 60 engineer lokal. “Saya menyadari untuk mengembangkan sebuah chipset, yang diperlukan tidak hanya ilmu membuat, tetapi juga manajemen yang baik, mulai dari finansial, pemasaran, hubungan dengan pemasok dan sebagainya. Potensi itulah yang saya lihat di Xirka,” ujar Trio, memberi alasan kesediaannya menerima tawaran Sylvia dan Rudy.

Setelah setahun berjalan, Xirka ternyata tidak hanya berkutat di teknologi WiMax, tetapi juga mengembangkan desain chipset perangkat elektronik lainnya. Kendati begitu, fokus bisnisnya tetap sebagai penyedia chipset WiMax, baik berbasis standar teknologi 16d maupun 16e. Bahkan, Xirka sudah mengekspor produknya ke  Jepang dan Malaysia. Di Malaysia, Xirka mendapatkan tender proyek dari Mimos untuk produk Mimos Wiwi Outdoor Access Point-Going Global yang menggunakan standar 16e. Perangkat yang dikeluarkan Mimos ini akan dipakai untuk pelayanan publik, seperti pertanian, pendidikan dan transportasi. “Jumlah chipset yang dipesan mencapai 1 juta unit. Harganya sekitar US$ 40 per keping,” ucap Sylvia.

Diungkapkannya, desain produksi chipset dilakukan di Indonesia, tetapi untuk pabrikasi sampai pembuatan silikon masih harus dilakukan di Jepang atau Singapura. Pasalnya, alat untuk memproduksinya sangat mahal, sementara skala produksi Xirka masih relatif kecil. “Ke depan, Xirka akan merambah ke desain dan produksi chipset peralatan elektronik dan ICT lainnya. Bahkan untuk generasi WiMax selanjutnya atau enhanced, Xirka telah siap,” Sylvia menegaskan.

Toh, diakui Trio, untuk membangun industri chipset tidaklah gampang. Kendalanya terutama dalam hal pengalaman, sehingga sebagai perusahaan baru pihaknya mesti banyak berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kapabilitas para engineer-nya. Selain itu, ekosistem industri elektronik di Indonesia belum terbentuk, sehingga dalam berbagai hal terkadang harus melakukan sendiri pekerjaan di luar lingkup kerja perusahaan.

Saat ini, Xirka juga telah mendapat kepercayaan dari Huawei untuk menggarap perangkat WiMax-nya. Seperti diketahui, untuk teknologi BWA/WiMax ini pemerintah mensyaratkan kandungan lokal–atau dikenal dengan istilah Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN)–tertentu untuk perangkat/alat yang akan digunakan, yaitu 40% untuk base station dan 30% untuk subscriber station. “Ini berarti, bagi vendor global seperti Huawei, sudah menjadi keharusan untuk bekerja sama dengan mitra lokal dalam pengembangan dan penyediaan produknya,” ujar Dani K. Ristandi, Deputi Direktur Divisi Dukungan Penjualan dan Solusi Pelanggan PT Huawei Tech Investment.

Menurut Dani, dipilihnya Xirka sebagai penyedia perangkat WiMax berdasarkan beberapa pertimbangan. Antara lain: Xirka sebagai Principal Member di WiMax Forum menunjukkan eksistensinya di tingkat global dalam pengembangan teknologi BWA/WiMax. Huawei juga menilai Xirka mempunyai SDM, fasilitas, serta pengalaman dalam penelitian dan pengembangan–khususnya teknologi BWA/WiMax–yang akan mempermudah proses transfer teknologi dan pengetahuan, serta pengembangan perangkat ke depan. “Xirka juga mempunyai akses langsung ke penyedia material lokal, sehingga akan mempermudah terpenuhinya TKDN yang disyaratkan dan mereka sangat memahami pasar broadband di Indonesia,” Dani menambahkan.

Pengamat industri telekomunikasi dari Masyarakat Telematika Indonesia, Sumitro Roestam, menilai positif kiprah Xirka. Alasannya, Xirka mampu mendorong tenaga ahli chipset lokal untuk berkarya. “Ini membuktikan Indonesia sudah punya kemampuan membuat chipset yang perlu keahlian khusus yang jarang ada di dunia,” ujar Sumitro.

Mengingat usianya yang masih seumur jagung, Xirka memang belum bisa menandingi perusahaan chipset dunia. Namun, Sumitro optimistis Xirka mempunyai potensi dan bisa mendunia. Syaratnya, adanya dukungan yang kuat dari pemerintah terhadap industri dalam negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s