Steven Law: Orang Lokal, Prestasi Regional

Sejatinya, dunia teknologi informasi (TI) Indonesia bisa melahirkan pemimpin-pemimpin andal yang mampu menakhodai sejumlah vendor global. Bahkan, dipercaya memimpin beberapa negara sekaligus. Misalnya, Andreas Diantoro, yang menjadi Direktur Pengelola Dell South Asia (Emerging Markets Group), membawahkan 20 negara berkembang lainnya di kawasan ini. Juga, Judhi Prasetyo, yang didapuk menjadi Country Manager Fortinet, perusahaan bidang solusi multi-threat security, untuk tiga negara sekaligus: Singapura, Indonesia dan Vietnam.

by a. mohammad bs & moh. husni mubarak

Belakangan, satu lagi “produk” lokal yang dipercaya memimpin vendor global untuk beberapa negara sekaligus, yakni Steven Law. Juli lalu, kelahiran Tanjung Karang, Bandar Lampung, 30 Agustus 1974, ini ditunjuk sebagai Country Manager NetApp, perusahaan solusi pusat data, untuk tiga negara sekaligus: Indonesia, Vietnam dan Filipina.

Prestasi Steven jelas bukan suatu kebetulan. Posisi itu diraihnya karena rekam jejaknya yang gemilang. Dia berhasil menempatkan NetApp di posisi kedua pasar external storage di Indonesia. NetApp Indonesia juga berhasil menjadi the fastest growing storage vendor di Indonesia, dan menjadi the second largest country di ASEAN. “Target saya membawa NetApp menempati posisi pertama untuk market share di Indonesia,” ucap Steven.

Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia ini mengawali kariernya di Aneka Infokom Tekindo, perusahaan distributor laptop Toshiba, sebagai channel manager tahun 1999. Tahun 2002, dia bergabung dengan American Power Conversion, perusahaan global yang menyediakan layanan critical power dan cooling services. Dia dituntut mendalami solusi infrastruktur fisik pusat data.

Ayah Alessandro Favian Law (6 tahun) dan Angelina Freira Law (4 tahun) ini mulai bergabung dengan NetApp pada 2005, ketika perusahaan itu akan mengembangkan bisnisnya di Asia. Steven menjadi Manajer Penjualan NetApp yang memegang wilayah Indonesia. Menurut Steven, ketika itu customer masih berorientasi pada server vendor. Apa saja storage-nya, yang penting servernya satu merek. Kalau servernya mati, mudah diganti, tetapi jika storage-nya rusak, bagaimana dengan data yang ada di dalamnya. “Data center is information, bukan berapa server yang dimiliki atau perfomance-nya, lebih pada seberapa secure informasi itu bisa dilindungi,” katanya.

Maka, strategi yang diterapkan Steven adalah mengedukasi pasar, mulai dengan customer visit hingga menyiapkan demo unit kecil di setiap presentasi. Namun, menurutnya, yang terpenting adalah kecepatan melakukan transfer teknologi yang dimiliki bakat lokal. Memang sulit menemukan enjinir spesialis storage, tetapi tidak perlu sampai mendatangkannya dari Singapura.

Lewat pendekatan seperti itulah, NetApp terus berkembang di Indonesia. Hingga Steven pun meraih penghargaan Rest of ASEAN Sales of the Year 2006. Menurutnya, pasar Indonesia bagaikan mutiara dalam lumpur, meskipun masuk rest of ASEAN (sisa ASEAN)–padahal, ASEAN juga termasuk rest of the world. “Indonesia sebagai negara berkembang sangat potensial, apalagi dengan jumlah penduduknya yang besar,” ujar pehobi ikan laut hias ini.

Tahun 2007, NetApp Indonesia berdiri dan Steven dipercaya menjadi country manager. Dia diberi kesempatan memilih dan mengembangkan tim, yang sebelumnya hanya terdiri atas tim penjualan. Lalu, bertambah lagi dengan hadirnya tim enjinir, pemasaran dan channel. Hasilnya, dia berhasil meraih Asia Pacific Sales of the Year 2007. “Pertumbuhan NetApp di Indonesia mencapai triple digit, setiap tahun selama tiga tahun berturut-turut bisnis kami dobel dari tahun sebelumnya. Tahun 2008, Indonesia menjadi negara terbesar kedua setelah Singapura,” katanya. Bahkan berdasarkan data IDC, NetApp menempati posisi nomor dua setelah HP untuk pasar external storage, atau sekitar 22% penguasaan pasar. Ini prestasi yang luar biasa. Awalnya, NetApp hanya mampu ada di urutan ke-6.

Juli lalu, tanggung jawabnya bertambah dengan memimpin Vietnam dan Filipina. Karakter bisnis teknologi informasi di dua negara tersebut, baginya, hampir sama dengan Indonesia–terutama Vietnam, sedangkan Filipina prosesnya lebih panjang, perlu banyak dialog. Untuk kompetisi, di Filipina memang agak lebih berat karena posisinya masih berada di urutan bawah. Adapun di Vietnam mampu meningkat hingga 180% untuk dua kuartal terakhir. NetApp banyak membidik pasar enterprise, seperti perusahaan telekomunikasi, perbankan dan manufakturing. Telkomsel, Bakrie Telekom dan Oto Multiarta merupakan klien NetApp. “Dibandingkan yang lain, customer kami lebih sedikit, tetapi besar-besar,” ucap Steven.

Menurutnya, bisnis ini bukan sekadar komoditas. Perlu transfer teknologi agar TI Indonesia lebih baik. “Tidak sekadar membawa uang keluar dari Indonesia, tapi ada semacam transfer teknologi dan knowledge.”

Steven mengatakan, persaingan di bisnis storage ini semakin ketat. Ekspektasi dari pusat cukup tinggi karena Amerika dan Eropa lari ke Asia Pasifik. Namun, dia tak mau terjebak pada strategi perang harga. Pihaknya tetap memilih-milih pasar yang potensial. “Value kami dari lokal selama ini yang menjadi keunggulan. Kemampuan untuk mengerti dan mengintegrasikan terletak pada employment,” katanya

Tahun ini targetnya tidak terlalu besar, 10%-20%, karena pertumbuhan sebelumnya sudah sangat tinggi. Meskipun begitu, NetApp berusaha menjadi pemimpin di pasar storage, baik di Indonesia maupun di Filipina dan Vitnam. Strateginya tetap pada bagaimana menyesuaikan diri dengan karakter bisnis lokal dan didukung dengan employment yang andal. Untuk itu, dia harus terus membangun motivasi tim. “Kunci suksesnya adalah antusiasme dan kepercayaan. Dengan punya belief, (kami) akan mempunyai percaya diri yang tinggi dan mampu menjalankan kesulitan dengan kemudahan,” katanya menandaskan.

Kepiawaian Steven diakui Tito Abdullah, Head of IT Infrastructur Bakrie Telecom (B-Tel). “Steven sudah membuktikan sebagai talent lokal yang bisa berkontribusi di level regional,” ujarnya. Tito memang tidak mengenal secara mendalam sosok Steven, tetapi karena B-Tel menjadi salah satu kliennya, dia bisa melihat Steven memiliki kemampuan lebih dalam bisnis TI, khususnya storage.

B-Tel menggunakan solusi storage dari NetApp sejak 2009 ini. Menurut Tito, NetApp dipilih karena mampu memenuhi kriteria yang diinginkan, yaitu berkaitan dengan performa dan harga. “Sebelumnya, ada bidding dari beberapa vendor, dan NetApp yang paling memenuhi kriteria tersebut.”

Menurut Tito, talent lokal seperti Steven harus bisa memberikan kontribusi besar untuk bisnis TI di Indonesia. Dunia TI masih sangat luas dan inovasi akan terus berkembang cepat. Untuk itu, para prinsipal juga mesti bisa memberikan kontribusi berupa transfer pengetahuan inovasi, tidak hanya bisnis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s