Putu Sudiarta, “Seniman” Software dari Bali

Ternyata Bali bukan hanya diisi para seniman lukis ataupun ukir. Dari Pulau Dewata ini juga bisa muncul pengembang aplikasi komputer untuk pendidikan, perkantoran dan bisnis yang cukup andal. Contohnya, PT Bamboomedia Cipta Persada.

by a. mohammad bs, moh. husni mubarak & silawati (Bali)

Perusahaan pengembang software ini didirikan Putu Sudiarta pada 2002. Sekarang produk buatannya sudah menyebar ke seantero negeri dan digunakan oleh lebih dari 30 ribu perusahaan kecil dan menengah. Bahkan, sekitar 200 aplikasi Bamboomedia telah dipasarkan ke mancanegara. Kini, vendor besar pun menjadi mitranya, antara lain Microsoft dan Intel. Omsetnya diperkirakan ratusan juta rupiah per bulan. Kantor Bamboomedia yang memiliki dua lantai berdiri megah di kawasan elite Jl. Merdeka Renon, Denpasar. Padahal, bisnis ini dibangun dari sebuah kamar kos dan dengan laptop pinjaman.

Kisahnya begini. Setelah mengantongi gelar sarjana komputer dari Stikom Surabaya pada 1997, Putu langsung diangkat sebagai peneliti sekaligus pengajar. Setelah empat tahun menekuni profesi itu, ia mendapat tawaran melanjutkan pendidikan (S-2) ke RMIT Australia. Namun, tuntutan tanggung jawab sebagai anak tertua dari tiga bersaudara yang baru kehilangan ayah tercinta memaksanya mengubur keinginan sekolah lagi. Ia pun memilih pulang ke Bali.

Setelah selama tiga bulan luntang-lantung dan hanya berdiam diri di kamar rumah orang tuanya yang merangkap tempat kos, Putu menyusun rencana untuk mengembangkan keahliannya selama ini. Berbekal laptop pinjaman serta dibantu adiknya yang saat itu sedang kuliah di fakultas teknik dan seorang kawan lainnya, Putu mulai mengembangkan software untuk pendidikan dan perkantoran. “Saat itu belum ada pemain lokal yang menggarap bisnis ini,” kata Putu memberi alasan. “Dan saya merasa mampu.”

Aplikasi komputer mengenai cara menggunakan Windows, MS Office dan Internet yang berhasil dibuatnya lalu ditawarkan langsung ke Toko Buku Gramedia. Rupanya, hasil karya Putu tersebut direspons positif pihak Gramedia. “Saya menemukan titik terang, dan saya jadi tambah yakin dengan pilihan saya ini,” ucapnya mengenang.

Langkah Putu semakin mulus ketika perusahaannya yang baru dibentuk mendapat tawaran kerja sama dari Microsoft pada 2004. “Ini tonggak penting untuk Bamboomedia,” ujar Putu seraya menyebutkan, kini pihaknya rutin mendapat order dari Microsoft. Maklum, ketika itu Bamboomedia baru mempunyai lima karyawan dan kantornya pun masih mengontrak rumah kecil.

Seiring berjalannya waktu, tugas Putu lebih fokus. Sebelumnya, dia harus bekerja serabutan karena keterbatasan karyawan. Adapun saat ini dengan dibantu 30 karyawan–16 di antaranya tenaga kreatif yang bisa bertambah hingga 5-10 part-timer saat menggarap suatu program–Putu mengaku sudah bisa berkonsentrasi pada pengembangan produk saja. “Kegiatan operasional sudah saya tinggalkan, tapi riset dan development tetap saya pegang,” pria kelahiran tahun 1975 ini menjelaskan.

Diklaim Putu, untuk skala nasional, saat ini produk Bamboomedia termasuk yang paling beragam dan lengkap–terdiri dari 200 jenis program, mulai dari perkantoran, programming, grafis, games, software untuk anak-anak, Internet dan Web, hingga software pendidikan untuk sekolah dan guru. Harga yang dipatok untuk tiap CD aplikasinya berkisar Rp 25.000-60.000. Namun, Putu enggan memberi angka rata-rata penjualan tiap bulan.

Kini, produk Bamboomedia dimanfaatkan oleh lebih dari 30 ribu perusahaan kecil dan menengah. Selain Microsoft, sekarang Intel, Telkom, Newmont, Binus dan Depdiknas sudah menjadi mitra bisnisnya. Bahkan, Putu telah menjalin kerja sama dengan X-ing International untuk mendistribusikan 8 judul produk aplikasi berbahasa Inggris buatannya di wilayah Eropa dan Amerika Serikat.

Beberapa penghargaan pun pernah diraih Bamboomedia. Antara lain, e-Learning Award dari Pustekkom (Depdiknas) dan SWA serta MICSA untuk kategori software. Bamboomedia juga meraih penghargaan dalam ajang INAICTA 2008 yaitu sebagai The Winner (terbaik) untuk kategori eBusiness UKM. Penghargaan ini diberikan lantaran Bamboomedia berhasil menciptakan aplikasi Program Penjualan dan Stok Barang 5.5, sebuah aplikasi sederhana tetapi terbukti bermanfaat untuk penerapan TI pada skala bisnis UKM.

Diakui Putu, awalnya pemasaran produk Bamboomedia banyak dilakukan melalui toko-toko buku. Sekarang, pemasarannya dilakukan melalui guru, sekolah atau tempat kursus. “Kami fokus dalam kreasi, sedangkan distribusi dan pemasaran bisa dilakukan siapa saja,” ujar bapak seorang putri ini.

Keberhasilan Putu mengembangkan Bamboomedia mendapat apresiasi dari Microsoft. Menurut Lukman Susetio, Manajer Pemasaran Produk untuk Windows Microsoft Indonesia, Bamboomedia telah membuktikan dirinya sebagai independent software vendor (ISV) lokal yang mampu bersaing dan tak kalah dari ISV luar. “Microsoft sangat bangga dengan Bamboomedia. Salah satu misi kami adalah membantu pengembangan ISV lokal sehingga mampu bersaing dengan ISV luar negeri,” kata Lukman.

Disebutkan Lukman, saat ini Microsoft Indonesia telah banyak bekerja sama dengan Bamboomedia melalui program pembuatan video tutorial produk-produk Microsoft. Juga, kerja sama untuk pembuatan games edukatif untuk anak pada saat peluncuran Windows Starter Edition. “Kami mendapatkan mitra yang mempunyai kompetensi teknologi yang sangat baik,” kata Lukman. “Jika potensi bisnis Bamboomedia ini dibina dan diproteksi dengan baik, kami yakin ia bisa makin sukses di masa depan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s