Pertaruhan Harry Tanoe di Bisnis TV Berbayar

Pertengahan Mei lalu muncul kabar gembira bagi industri penyiaran Indonesia. Satelit baru milik PT Media Citra Indostar (MCI), Indostar II, diluncurkan di Baikonur, Kazakhstan. Indostar II bertugas menggantikan satelit Cakrawarta (Indostar I) yang segera habis masa orbitnya. MCI merupakan anak perusahaan PT MNC Skyvision, yang menjadi pemegang merek televisi berbayar Indovision dan Top TV.

by a. mohammad bs & moh. husni mubarak

Indostar II dibuat oleh Boeing Satellite System di Los Angeles, California, AS, dalam waktu 20 bulan, dengan total biaya sebesar US$ 300 juta–dari kas internal dan pinjaman asing. Satelit yang memiliki umur orbit 16,8 tahun lebih ini menggunakan platform BS 601 HP. Satelit Indostar II ini menempati slot orbit 107,7 derajat BT dan bekerja di pita frekuensi 2,5 GHz selebar 150 MHz.

Dijelaskan Harry Tanoesoedibjo, CEO PT Global Mediacom Tbk.–holding company yang membawahkan bisnis media dan teknologi informasi Grup Bimantara, termasuk Indovision dan Top TV–satelit yang baru diluncurkan ini memiliki kapasitas 10 transponder aktif S-Band plus tiga transponder cadangan, atau dua kali lipat dari kapasitas satelit sebelumnya. Tranponder tersebut akan difungsikan sebagai penguat gelombang frekuensi S-Band untuk menyediakan jasa layanan penyiaran langsung ke rumah-rumah (direct-to-home/DTH). Singkatnya, S-Band sangat cocok dengan iklim negara tropis seperti Indonesia yang sering hujan. “Ini lebih baik dibanding KU-band atau C-Band, baik dari kualitas gambar maupun suara,” ujar Harry.

Selain itu, Indostar-II juga menggunakan frekeunsi KU-Band yang didesain untuk layanan DTH dan telekomunikasi di India. Adapun transponder KU-Band lainnya digunakan untuk akses Internet berkecepatan tinggi dan layanan telekomunikasi di Filipina, Taiwan dan Indonesia.

Nah, satelit high power tersebut memungkinkan Indovision menampung kapasitas siaran hingga lebih dari 120 channel. Saat ini, jumlah kanal yang dimiliki televisi berbayar itu 62. Dengan satelit baru tersebut, Indovision juga optimistis tahun ini dapat meningkatkan jumlah pelanggannya hingga 65%. Tahun 2008 total pelanggan Indovision mencapai 480 ribu orang. Adapun pada kuartal I/2009 ini, meningkat menjadi 550 ribu pelanggan. “Dengan kapasitas besar, juga bisa memberikan layanan lebih kepada pelanggan karena jumlahnya lebih banyak dan variasinya (channel) lebih banyak, dan menghasilkan kualias gambar dan suara lebih baik,” kata Harry lagi.

Ditambahkan Andhianto, Wakil Dirut PT MNC Sky Vision, dengan kapasitas besar yang dimiliki Indostar II, ditambah dukungan teknologi MPEG-2 dan MPEG-4 yang diyakini tahan terhadap cuaca seperti hujan besar, kualitas layanan bakal meningkat. Selain itu, Indovision akan mampu menawarkan nilai tambah lain, seperti kualitas gambar high definition, serta ada juga video on demand dan video by request. Dengan gambar yang lebih baik dan channel yang lebih banyak, menurut Andhianto, pasti akan memicu banyak orang untuk menonton televisi. “Pertumbuhan MNC Skyvision melalui produknya akan menjadi pesat. Sebab, kualitasnya lebih bagus,” imbuh Harry.

Keberanian Harry menggelontorkan dana besar untuk menopang bisnis TV berbayarnya tersebut tentu saja ada kalkulasi bisnisnya. Menurutnya, pada 2008, total pelanggan TV berbayar di Indonesia sekitar 830 ribu pelanggan. Adapun tahun ini diperkirakan meningkat mencapai 1,1 juta pelanggan. “Bisnis media berbasis pelanggan di Indonesia memiliki potensi yang signifikan dengan tingkat penetrasi baru sebesar 2,5% tahun 2008,” ucapnya.

Selain itu, nilai bisnis dari jasa satelit sendiri cukup besar. Diperkirakan nilainya mencapai Rp 6 triliun/tahun. Potensinya berasal dari penyewaan transponder, jasa jaringan, teleport, TV kabel, jasa instalasi, dan lainnya.

Apakah Indostar II kemungkinan juga akan disewakan? Baik Harry maupun Andhianto tidak menampik kemungkinan itu. “Bisa saja disewakan jika masih ada kelebihan kapasitas yang ada. Tetapi untuk saat ini, prioritas utama untuk MNC Skyvision melalui Indovision dan Top TV. Jika ada peminatnya, bisa dibicarakan,” ujar Harry. Sementara itu, Andhianto mengklaim saat ini sudah ada yang berminat menyewa Indostar II. “Indostar II ini memang ada potensi untuk disewakan. Namun, mekanismenya seperti apa dan berapa tarifnya, masih dibicarakan,” imbuh Andhianto.

Sejauh ini, pendapatan Global Mediacom masih didominasi kontribusi lini usaha berbasis konten dan iklan, yang tahun lalu menyumbang Rp 3.780 miliar. Adapun media berbasis pelanggan menyumbang Rp 776 miliar dan segmen teknologi informasi Rp 978 miliar. Boleh jadi, itulah salah satu alasan Harry melakukan gebrakan, sekaligus pertaruhan, untuk bisnis TV berbayarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s