Biang Aplikasi e-Gov dari Sumatera

Demam praktik e-government (e-gov) di sejumlah pemda, ditangkap Virgo Lazarus Pehulisa dan Syafruddin sebagai peluang pasar yang menantang.

by a. mohammad bs

Maklum, saat ini di Indonesia ada sekitar 500 pemda–meliputi pemerintah provinsi, kota dan kabupaten. Setiap pemda rata-rata memiliki 30 dinas. Dengan begitu, ada 15 ribu dinas yang bisa digarap. Padahal, satu dinas memiliki 20 kebutuhan dinas yang mestinya ditopang sebuah aplikasi. “Kami melihat peluang pasar cukup besar dalam bisnis solusi e-gov,” Virgo menandaskan.

Bertolak dari pemikiran tersebut, pada 11 Oktober 2001 Virgo dan Syafruddin mendirikan PT Barelang Konsultindo Mandiri (BKM). Bisnis utamanya pengembangan berbagai aplikasi untuk kebutuhan e-gov. Menurut Virgo, untuk mengembangkan BKM ini investasinya Rp 2 miliar, yang digunakan untuk membeli perangkat keras, jaringan, software berbayar, infrastruktur dan sarana operasional lainnya.

Proyek perdana BKM diperoleh dari Pemkot Batam, yang membutuhkan sistem pengelolaan keuangan daerah. Untuk pemkot ini, BKM membuat aplikasi pengelolaan keuangan daerah yang disebut Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD). Setelah itu, permintaan pengembangan aplikasi e-gov mengalir dari berbagai pemda lainnya di seluruh Indonesia. Diklaim Virgo, saat ini lebih dari 25 pemda di seluruh Indonesia telah menggunakan aplikasi buatan BKM. Sejumlah pemda yang sudah menggunakan produk BKM, antara lain: Pemkot Batam, Pemprov Kepulauan Riau, Pemkab Wonogiri (Jawa Tengah), Pemprov Kalimantan Tengah, Pemkab Sinjai (Sulawesi Selatan), dan Pemkab Teluk Wondama (Papua).

Tentunya, proyek pengembangan aplikasi e-gov di satu pemda bisa membutuhkan lebih dari satu aplikasi. Nilai aplikasi yang ditawarkan bervariasi, tergantung dari kompleksitas solusi yang akan dibangun, serta lamanya implementasi dan pelatihan. Secara umum, nilainya sekitar Rp 90 juta per proyek untuk jangka waktu empat bulan. Tak mengherankan, omset yang dibukukan pengembang software ini cepat membengkak. Pada 2007, penjualan BKM mencapai Rp 10 miliar. Ditargetkan, pada 2010 penjualannya bisa menembus Rp 30-60 miliar. “Hingga 2010, kami menargetkan mencapai market share sebesar 10% dari pangsa pasar (pengembangan software) yang ada,” Virgo berujar.

Menurut Virgo, salah satu keunggulan solusi BKM adalah proses pengembangannya yang telah menerapkan standar ISO 9001:2000. Standar ini mensyaratkan agar dalam proses pembuatan solusi dan implementasinya harus didokumentasikan secara baik, serta dibangun dengan keamanan yang baik pula. Selain itu, lanjut Virgo, BKM menawarkan pula solusi lengkap bagi kliennya. Saat ini, aplikasi e-gov yang dikembangkan BKM telah mencakup berbagai area fungsional di pemerintahan, seperti: keuangan, SDM, manajemen persediaan dan aset tetap, “proses produksi” (pelayanan publik), penjualan dan pemasaran (pendapatan daerah), serta manajemen pemasok (e-procurement).

Untuk pengelolaan keuangan daerah (yang meliputi proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pelaporan), BKM memiliki aplikasi unggulan, yakni Simrenbanda, SAKD, Dara, dan SAP. Di bidang pendapatan daerah, BKM memiliki aplikasi Otonom untuk pemkab dan pemkot, serta aplikasi Protonomi untuk pemprov. Adapun di bidang SDM, BKM memiliki aplikasi Simpeg untuk kepersonaliaan, Perso untuk penggajian PNS Daerah, serta Perhad untuk kehadiran pegawai–yang menggunakan teknologi finger scan. Dalam setahun, rata-rata BKM mengeluarkan dua produk baru.

Virgo optimistis, bisnis solusi e-gov akan terus membesar, seiring dengan semakin meningkatnya penggunaan komputer di masa depan. Oleh karena itu, pihaknya hendak terus menambahkan fitur-fitur baru pada solusi yang telah dibangun. “Agar dapat bersaing, BKM menerapkan prinsip kepuasan dan kedekatan dengan klien. Kami terus berusaha meningkatkan kepuasan pelanggan atas layanan yang telah diberikan. Pelanggan yang puas, telah terbukti selama bertahun-tahun menjadi sumber proyek baru bagi BKM,” papar Presdir BKM ini.

Pengakuan atas kinerja BKM dikemukakan M. Al Azhar. Menurut Kabid INKA Badan Kepegawaian Kota Batam itu, kehadiran solusi e-gov BKM sangat membantu tugas kepemerintahan, terutama dalam percepatan pelayanan, sehingga pihaknya bisa memberi pelayanan lebih optimal. Disebutkan Azhar, beberapa waktu lalu pihaknya telah membeli produk aplikasi dari BKM, yakni Program Simpeg, dengan investasi senilai Rp 160 juta. “Sejauh ini BKM telah menciptakan kerja sama yang baik dan kooperatif. Tentunya, ke depan ada kemungkinan menggunakan produk BKM lainnya,” katanya.

2 responses to “Biang Aplikasi e-Gov dari Sumatera

  1. pemilik_kebenaran

    Berita tadi terlalu muluk-muluk…Seandainya melihat kedalamnya, itu hanya bohong belaka…Jangan mudah tertipu…Anda Selidiki kebenarannya. Aplikasi nya kacau, SDMnya banyak keluar kok

    • Terima kasih utk komen-nya. Dan, alangkah lebih baik lagi–untuk menunjukkkan kebenaran seperti yg anda maksud–mestinya anda menyebutkan identitas/nama jelas. Sip, tq Bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s