Infoglobal, Bukan Developer Software Biasa

Bermula dari sebuah kelompok peminat teknologi terapan, Infoglobal berkembang menjadi software house yang dipercaya banyak institusi dan perusahaan besar, termasuk perusahaan multinasional. Nilai per proyeknya pun kini berkisar miliaran rupiah.

by a. mohammad bs & suhariyanto

Para gamer lokal sejati pasti tahu (dan mungkin menggilai) Ragnarok dan Counter Strike, dua online game paling spektakuler hingga saat ini. Yang kemungkinan besar belum mereka ketahui adalah war game bernama Soyus. Jika mereka tahu dan bisa menikmatinya, mereka bakal ketagihan. Pasalnya, dibandingkan dengan dua online game populer tadi, Soyus boleh dibilang lebih canggih: lebih terintegrasi, lebih interaktif, lebih kompleks, dan real time. Jadi, pastilah lebih menantang.

Namun wajarlah, bila kaum game mania tidak mengenal Soyus. Sebab, game yang satu ini digunakan lebih “serius”, yakni untuk kebutuhan pendidikan perwira TNI Angkatan Udara di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (SESKOAU).

Sebagai sebuah sistem gaming, Soyus–singkatan dari Sistem Olah Yuda untuk SESKOAU–menyediakan fitur manajemen data perlengkapan AU, kemampuan supervisi, perencanaan operasional, dan melakukan berbagai kalkulasi rumit serangan udara. Dengan Soyus, perwira TNI AU bisa melakukan perencanaan dan komando pada tingkat strategis, taktis dan operasional.

Melihat kecanggihan dan kelengkapan fiturnya, orang mungkin akan mengira sistem ini buatan pengembang beken dari luar negeri. Padahal, pembuat peranti lunak canggih ini adalah para programmer lokal yang berkarya di bawah payung PT Infoglobal Auto Optima (IAO)–salah satu unit usaha Grup Infoglobal. Nama IAO memang tak sepopuler software house lokal lainnya seperti Realta Chakradarma, Zahir ataupun Andal Software. Memang, berbeda dari kebanyakan perusahaan pengembang software lainnya yang membuat aplikasi bisnis pada umumnya, IAO memilih mengembangkan aplikasi yang tak umum, seperti aplikasi untuk kepentingan militer dan pertahanan, pemetaan udara, maskapai penerbangan, dan industri migas. Namun, justru dengan spesialisasi yang khas ini, sejumlah perusahaan besar–baik di dalam maupun luar negeri–telah menggunakan jasanya.

Kisah berdirinya IAO cukup menarik. Perusahaan ini bermula dari sebuah kelompok peminat teknologi terapan, khususnya di bidang pengembangan solusi teknologi informasi (TI). Komunitas itu dibentuk pada 9 September 1992 oleh dua orang dosen Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Abdullah Alkaff dan Suhadi Lili, plus dua orang mahasiswa mereka, Achmad Hadi dan Seno Hardijanto. Tujuannya mengimplementasi teori akademis menjadi produk solusi yang siap pakai.

Anggotanya terus bertambah. Dan, komunitas ini pun kemudian mencoba mengembangkan solusi TI guna mengatasi berbagai masalah di banyak bidang, dengan bertumpu pada terminologi Information, Automation, dan Optimization (dari singkatan terminologi itulah nama perusahaan ini muncul–Red.). Lama-kelamaan aktivitas unik mereka ini tercium oleh kalangan dunia usaha. Kalangan bisnis yang pertama mengorder keahlian mereka adalah Sempati Air pada 1993. Maskapai penerbangan milik Tommy Soeharto ini meminta mereka membuatkan master plan untuk Airlines Management System, berikut pengembangan modulnya, seperti Route Management System, Flight Management System dan Crew Management System. “Kami yang awam dengan dunia penerbangan, tentu agak kesulitan memahami. Tetapi kepercayaan itu kami ambil juga,” ungkap Khoirul Huda, Koordinator Board of Directors Grup Infoglobal. “Sebagai bekal, kami diberi beberapa buku panduan sistem penerbangan milik perusahaan asing. Dari situlah, kami membuat sebuah sistem sesuai dengan keinginan Sempati Air.”

Proyek dari Sempati Air tersebut seperti pembuka pintu gerbang bisnis. Sebab, tahun berikutnya mereka mendapat proyek baru dari perusahaan berbeda. Bekerja sama dengan ITS, kelompok ini dipercaya membangun Sistem Pelaporan dan Penanganan Gangguan Terpadu berbasis Geographical Information System dari PLN. Selanjutnya, Abdullah Alkaff dkk. dipercaya pula oleh PLN untuk mengembangkan sistem Automated Mapping/Facility Management jaringan listrik. Mempertimbangkan skala kegiatan yang makin luas, Abdullah dan koleganya memutuskan membentuk institusi legal sebagai wadah kegiatan bisnis yang lebih serius dan profesional. Maka, tahun 1995 didirikanlah IAO.

Pada awal 1996, IAO berhasil mengembangkan Sistem Informasi Langganan Terpadu (SILT) di PLN Cabang Banda Aceh. SILT merupakan sistem informasi pelanggan khas PLN, yang mengelola proses bisnis mulai dari pendaftaran calon pelanggan hingga menjadi pelanggan, pencatatan meteran listrik, perhitungan dan pelunasan rekening, pengawasan tunggakan, pembukuan, hingga proses pemutusan sebagai pelanggan. Setelah Banda Aceh, implementasi SILT dilakukan di PLN Cabang Solok Sumatera Barat dan seluruh cabang PLN di Kalimantan Selatan, Kal-Teng dan Kal-Tim.

Diklaim Khoirul, kini SILT sudah dikembangkan jauh lebih lengkap dari versi pertamanya dengan menggunakan teknologi mutakhir. Namanya pun diganti menjadi SIL2004. Implementasinya lebih luas, mencakup wilayah Banda Aceh, Sum-Bar, Kal-Sel, Kal-Teng, Kal-Tim dan Kal-Bar, serta Nusa Tenggara Timur.

Pada awal 2000, IAO mulai masuk ke segmen industri pertahanan, dengan mengembangkan Flight Clearance untuk pencatatan dan pelacakan izin masuk pesawat asing ke wilayah Indonesia. Kemudian disusul dengan pengembangan sistem Transmisi Data Air Situation (TDAS) untuk digunakan di Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) dan instansi terkait lainnya. TDAS merupakan pemroses data tangkapan radar udara, baik dari radar sipil maupun radar militer. Data objek pesawat yang tertangkap bisa ditampilkan di monitor secara real time.

Implementasi TDAS diawali dari Kosek I dan Popunas Jakarta, yang kemudian diteruskan ke Kosek III Medan, Kosek II Makassar, serta terakhir Kosek IV Biak pada 2006. Dengan aplikasi TDAS ini, tangkapan radar seluruh Indonesia bisa ditampilkan secara terintegrasi dan seketika dalam satu layar. Ketika data ini diintegrasikan dengan data Flight Clearance, maka jadilah TDAS sebagai sistem monitoring situasi lalu lintas udara nasional yang lengkap dan terpadu.

Kendati begitu, diakui Khoirul, tidak berarti perjalanan IAO berlangsung mulus tanpa rintangan. IAO pun pernah mengalami masa susah. Manakala terjadi krisis moneter, perusahaan ini mesti mengencangkan ikat pinggang supaya tidak ikut tergerus. Pasalnya, order proyek pengembangan aplikasi pun ikut surut. Lalu, disepakati seluruh jajaran manajemen dan karyawan untuk menunda kenaikan gaji serta meniadakan berbagai insentif dan tunjangan hingga berhasil melampaui badai krismon. “Kami meneguhkan komitmen untuk menanggung beban dan menghadapi krisis secara bersama-sama. Toh, akhirnya, kami mampu melewati masa sulit itu dengan baik,” tutur Khoirul mengenang.

Pascakrismon, bisnis IAO berangsur membaik dengan mengalirnya sejumlah tawaran pengerjaan proyek pengembangan aplikasi dari berbagai perusahaan. Diklaim Khoirul, saat ini sistem yang dikembangkan IAO sudah tersebar mulai dari Sabang sampai Biak, dan dari Kupang hingga Manila. Beberapa perusahaan yang telah menggunakan aplikasi IAO, antara lain: PLN, Garuda Indonesia, Vico Indonesia, Total Finaelf (Kal-Tim), Exxon Mobil, Medco, BP Migas, Kangean Energy Indonesia, Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, TNI AL, SESKOAU, Kohanudnas, Departemen Pertahanan, dan Bank Islam Brunei Darussalam. Masing-masing nilai proyek IAO ini berbeda-beda, berkisar Rp 1-5 miliar. Tahuh-tahun terakhir ini, dalam satu tahun IAO mampu menangani 8-10 proyek.

Kini, di semua segmen yang digeluti–mulai dari Governance, Utilitas, Aset, Energi, Performa, dan Pertahanan–IAO telah memiliki sejumlah aplikasi yang bisa dibanggakan. Misalnya, di segmen Governance, IAO memiliki produk bernama Avesina (sistem informasi health care, baik untuk perusahaan maupun rumah sakit). Bagi perusahaan, Avesina dapat digunakan untuk mengelola urusan perawatan kesehatan karyawannya, yang meliputi sistem rekam medis, klaim benefit kesehatan, dan semacamnya. Adapun bagi rumah sakit, Avesina merupakan sistem informasi rumah sakit dengan fitur yang lengkap, mulai dari loket penerimaan pasien, rawat jalan, rawat inap, tindakan, unit diagnostik, farmasi, rekam medis hingga penagihan dan akuntansinya. Avesina juga memiliki kemampuan konsolidasi dan berbagi data rekam medis antarrumah sakit.

Di segmen Utilitas, IAO sudah mengembangkan produk andalan SIL2004, yakni versi CIS (Customer Information System) PLN yang berbasis teknologi terkini untuk pelayanan pelanggan PLN. Di samping itu, IAO mengembangkan pula eMap, yang merupakan sistem informasi berbasis peta untuk mengelola jaringan distribusi listrik, baik aset jaringan maupun konektivitas elektrikalnya. Sistem ini bisa dipakai untuk mengelola jaringan mulai dari gardu induk hingga ke pelanggan, dan dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi operasional pengelolaan jaringan PLN. Kelebihan eMap bukan hanya menyediakan visualisasi berbasis Geographical Information System, melainkan mampu pula menganalisis aliran ataupun keandalan jaringan listrik.

Di segmen Aset, pada 2006 IAO dipercaya menjadi reseller produk Asset Management System terkemuka bernama Maximo dari MRO Software. Di segmen Energi, IAO memiliki produk Revenue Analyst, Production System, dan Drilling System. Khusus di segmen Performa, IAO menyediakan solusi untuk manajemen kinerja baik karyawan maupun perusahaan, yakni Promeasys. Khusus segmen Aset ini, bisnisnya dikelola di bawah bendera PT Global Performa Maxima, yang didirikan tahun 2003.

Sementara itu, di segmen Pertahanan, IAO telah mengembangkan beberapa sistem strategis, antara lain: TDAS sebagai sistem monitoring lalu lintas udara nasional terpadu; Soyus War Gaming System sebagai sistem simulasi perang di lingkungan sekolah staf dan komando; Digital Video Recorder untuk pesawat tempur dan pesawat latih; serta yang terbaru Digitalisasi Radar atau sistem yang mengonversi data radar analog menjadi data radar digital.

Masih di segmen Pertahanan, bekerja sama dengan perusahaan asing IAO mengembangkan sistem surveillance maritim yang terpadu untuk pemantauan Selat Malaka. Nah, bisnis penyediaan solusi, baik hardware maupun software, untuk kalangan militer dan perusahaan pemerintah yang melayani publik seperti PLN, berada di bawah PT Infoglobal Teknologi Semesta yang didirikan pada 2005.

Menurut Khoirul, untuk mengembangkan berbagai aplikasi tersebut, pihaknya memiliki divisi riset dan pengembangan (R&D) yang dikepalai seorang Chief Technology Officer (CTO). CTO ini yang mengembangkan model R&D secara tersentral dan terdistribusi, sekaligus bertanggung jawab mengembangkan kemampuan teknis SDM-nya. Kegiatan R&D tersentral mengembangkan semacam Common Library yang digunakan di semua segmen solusi. Adapun untuk solusi yang memerlukan sentuhan teknologi yang spesifik, kegiatan R&D-nya dilaksanakan di masing-masing segmen.

Diakui oleh Khoirul, dengan mengambil positioning sebagai pengembang software yang “tak biasa”, pihaknya memiliki diferensiasi dibanding para kompetitornya. “Kami suka dengan hal-hal yang tak biasa. Karena itu, kami mengambil pasar ceruk yang tidak diambil pemain lain, dan kami berani mengerjakan proyek-proyek yang tak biasa itu,” papar Khoirul.

Agar tetap inovatif, menurut Khoirul, pihaknya senantiasa mengikuti perkembangan teknologi terbaru di bidang TI. Bahkan, ia mengklaim kerap menjadi early adopter teknologi terbaru. Ia mencontohkan Soyus. Sistem ini, ia menjelaskan, sarat dengan perhitungan matematis yang rumit dan tuntutan kecanggihan programming untuk menggerakkan ribuan objek dalam waktu bersamaan di atas peta, digerakkan oleh dua tim atau lebih secara real time dan interaktif. Soyus juga disebutkan sebagai early adopter teknologi Microsoft terkini. “Kami juga menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan global semacam IBM untuk pengembangan pasar,” ujar Khoirul.

Bagi para pelanggannya, IAO menerapkan pendekatan kemitraan ketimbang memosisikannya sebagai klien. Kemitraan ini dijaga hingga ke tingkat emosional. Oleh karena itu, Khoirul mengklaim, dalam implementasi suatu sistem IAO tidak menganut pola hit and run. Setelah proses implementasi, biasanya IAO menempatkan supervisor untuk mendampingi klien menjalankan sistem, mengevaluasi sistem jika ada kekurangan atau kesalahan, dan menjadi penyambung lidah antara klien dengan tim pengembangan. “Kami punya komitmen untuk nourish the system, bukan develop the system. Karenanya, kami senantiasa berkomitmen untuk mengimplementasi sebuah sistem hingga benar-benar berjalan dan digunakan oleh klien,” Khoirul menuturkan. “Strategi kami, bagaimana membangun kepercayaan klien, sehingga mereka lebih merasa menjadi mitra daripada sekadar klien,” ia menambahkan.

Seiring dengan semakin banyak dan luasnya proyek yang dikerjakan, pada 2007 manajemen Infoglobal mendirikan PT Infoglobal Nusantara sebagai perusahaan induk (holding company) yang membawahkan ketiga anak perusahaan (IAO, Infoglobal Teknologi Semesta, dan Global Performa Maxima). Saat ini, Grup Infoglobal memiliki lebih dari 100 teknisi, mencakup: manajer proyek, analis sistem, programmer, implementor, dan dukungan teknis. “Dalam lima tahun ke depan Infoglobal ditargetkan masuk ke pasar global dan menjadi perusahaan terbuka,” Khoirul menegaskan dengan bersemangat.

Kepiawaian Infoglobal dalam mengembangkan aplikasi diakui salah satu kliennya, BP Migas. Menurut Rinto Pudiantoro, pihaknya telah memercayakan proyek sistem akuntansi revenue industri migas kepada Infoglobal sejak 2005. Nilai proyeknya Rp 1,2 miliar. “Infoglobal memenangi tender yang kami lakukan dan menyisihkan 12 perusahaan lain. Mereka terpilih karena memiliki kapabilitas dan kualitas yang bagus,” Kasubdin Akuntansi Penerimaan Negara BP Migas ini menjelaskan.

Rinto juga menilai, Infoglobal memiliki sistem kerja terkontrol yang bagus, mampu mengikuti kemauan pelanggan secara cepat, dan didukung SDM yang andal. Toh, ia melihat masih ada kekurangannya. “Kelemahannya, breakthrough-nya kurang. Mereka kurang mampu menawarkan ide-ide baru yang bersifat inisiatif. Tetapi secara keseluruhan, kami puas atas kinerjanya,” kata Rinto. “Kami juga akan selalu mengundang mereka untuk mengikuti tender,” lanjutnya menjanjikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s