(Agresivitas Trio Sariaatmadja) Bisnis Telekomunikasi dan TI:

Bermula dari distributor komputer merek asing, Emtek kini menjelma sebagai pemain penting di bisnis telekomunikasi dan teknologi informasi. Produk dan jasanya yang cukup komplet (terutama hardware) telah dipakai banyak perusahaan besar, bahkan oleh pesaingnya dari sektor yang sama.

Darwin Wahyu Sariaatmadja. Nama ini memang tidak sepopuler Eddy dan Fofo Sariaatmadja. Dibandingkan dengan kedua kakaknya itu, Darwin memang terkesan lebih tertutup. Toh, di tangannyalah bisnis masa depan keluarga Sariaatmadja – yang dipayungi oleh Grup Emtek – dipertaruhkan. “Kalau konteksnya di luar TI, Anda harus berbicara langsung dengan Fofo atau Eddy,” ujar Darwin pelan sambil tersenyum, ketika mengawali pembicaraan dengan Eddy D. Iskandar dari SWA.

Pria jangkung kelahiran 27 Mei tahun 1965 ini menceritakan, Emtek bermula dari sebuah perusahaan distribusi, bernama PT Elang Mahkota Komputer (Emkom), yang memegang hak eksklusif pemasaran komputer Compaq di Indonesia. Emkom dibentuk tahun 1983 oleh Eddy Kusnadi Sariaatmadja, dengan menggandeng Piet Yaury. Pada 1988, Emkom juga menjadi distributor produk Motorola Data Networking.

Selanjutnya, perusahaan direstrukturisasi menjadi dua divisi utama sebagai entitas bisnis terpisah di bawah Emkom sebagai perusahaan induk (holding company). Pertama, divisi data networking dan jasa komunikasi di bawah PT Abhimata Citra Abadi (ACA). ACA menjadi agen untuk solusi jaringan dari beberapa vendor, yakni: Tellabs (digital data network); Hughes Network System (hub dan VSAT), Nokia Telecommunication; dan Motorola (solusi Internet dan jaringan). “ACA menyediakan perangkat networking untuk operator penyelenggara komunikasi yang melalui satelit,” Darwin menjelaskan.

Kedua, divisi aplikasi peranti lunak, dengan membentuk PT Abhimata Persada (AP) pada 1990, seiring dengan diperolehnya hak memasarkan software untuk pengelolaan keuangan (ACI/Base24). “AP ini khusus untuk TI perbankan. Terutama produk switching untuk ATM. Klien kami kebanyakan perbankan,” ujar pria yang menjabat Presdir AP ini. Ia mengklaim, kebanyakan bank besar menggunakan produk switching dari AP, semisal Bank Mandiri, BCA, Danamon, BNI dan BTN, hingga pengelola jaringan ATM bersama, Artajasa. “Sedangkan untuk sistem treasury atau back office lebih banyak lagi. Nama produknya OPIC milik Misyst dari Inggris. Ini sih banyak yang pakai, termasuk BII, Permata dan lain-lain,” Darwin menguraikan. “Kalau ditotal klien AP bisa di atas 30 perusahaan, yang kebanyakan perbankan.” Di bisnis jaringan data dan solusi TI ini, masih ada perusahaan lainnya, yakni PT Abhimata Mitraganda dan PT Globaltekno Datanet.

Lalu, jasa layanan Internet (Internet service provider) pun mulai dirambah, dengan membentuk PT Bitnet Komunikasindo (Bozz.com) pada 1997. Pada tahun itu juga nama Emkom diganti menjadi Emtek. Ini sekaligus menandai perluasan jangkauan bisnis dan mempertegas keberadaannya di sektor telekomunikasi, multimedia dan TI. Setahun berikutnya Emtek membentuk PT Tangara Mitrakom, setelah memperoleh izin operasional untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi berbasis Sistem Komunikasi Stasiun Bumi Mikro – alias operator Very Small Aperture Terminal (VSAT) – dari Departemen Perhubungan. Saat ini, Darwin mengklaim, Mitrakom mengoperasikan lebih dari 600 VSAT di seluruh Indonesia. “Kami inginnya full service. Misalnya, untuk perbankan, produk AP digunakan untuk switching di head office bank. Lalu komunikasinya ke cabang atau ATM dengan menggunakan satelit yang disediakan Mitrakom. Sedangkan ACA yang menyuplai barangnya,” ungkap lulusan engineering dan master bidang commerce dari New South Wales University ini.

Pada 1999, Emtek mendirikan PT Sakalguna Semesta. Ini merupakan perusahaan join ventura dengan Telechoice International Pte., untuk memasarkan SIM card GSM dan CDMA di Indonesia. Perusahaan ini menjalin kemitraan dengan PT Indosat untuk menjual voucher dan kartu perdana ponsel. Pemasaran kartu GSM dan CDMA itu dilakukan melalui pengembangan gerai I’m Shop, yang saat ini sudah ada di lebih dari 27 titik poin di Jakarta, Bandung, Medan dan Surabaya.

Untuk melengkapi bisnis jasa switching-nya, Grup Emtek sedang dalam proses mengakuisisi sebuah perusahaan milik salah satu perusahaan rokok nasional yang bergerak di bidang solusi pembayaran perbankan. “Kelihatannya bisnis Emtek melebar, tapi (sebenarnya) tidak jauh seputar TI, telco dan media. Semua itu, suatu saat akan disatukan. Jadi kami bisa memberikan suatu fully combined services,” Darwin menuturkan.

Agresivitas Emtek di sektor telekomunikasi, diakui oleh seorang manajer pemasaran sebuah perusahaan layanan switching dan VSAT terkemuka yang tak mau disebutkan namanya. “Terus terang, progres Emtek sangat mengejutkan. Di luar dugaan kami,” katanya mengakui. Menurutnya, khusus untuk bisnis switching dan VSAT, kekuatan Grup Emtek lebih pada bisnis penjualan perangkat keras, bukan pada layanan jasanya. Ia menilai, jasa switching hingga kini masih didominasi oleh Artajasa, Rintis dan Alto. Begitu pula di layanan VSAT, pangsa pasarnya masih dikuasai Citra Sari Makmur, Patrakom, Primacom, Lintasarta, dan Infokom Elektrindo. “Sebagai service provider mereka masih kecil. Tapi mereka kuat di hardware termasuk dari vendor-vendor utama. Bahkan, kami termasuk perusahaan pengguna hardware dari Emtek,” ujar sang manajer pemasaran ini.
Divisi Multimedia & E-Commerce:
PT Bitnet Komunikasindo
PT Abhimata Mediatama
PT Surya Citra Media
PT Surya Citra Televisi
PT Astika Lintas Buana

Divisi Operator Telekomunikasi:
PT Tangara Mitrakom
PT Tangara Lintasbuana

Divisi Data Networking & Jasa Komunikasi:
PT Abhimata Citra Abadi
PT Abhimata Mitraganda
PT Globaltekno Datanet.

Divisi Sistem Integrator:
PT Abhimata Persada

Divisi Ritel dan Distribusi Telekomunikasi:
Sakalaguna Semesta

(SWA No. 20/XXIII/13-26 September 2007, ditulis bersama dengan Eddy Dwinanto Iskandar)

5 responses to “(Agresivitas Trio Sariaatmadja) Bisnis Telekomunikasi dan TI:

  1. excellent writing, mas

  2. Hatur nuhun. Actually, U r the excellent

  3. nona heran tiga bersaudara kok cakep semua hihi maaf.

  4. cukup komunikatif tulisannya

  5. Mas, kan Abhimata Persada barengan sama Fernbach buat solusi IFRS (PSAK 50/55). kira-kira mereka sudah implementasi dimana aja ya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s