Para Photopreneur MudaBergelimang Order

Tak kalah dari para seniornya, makin banyak fotografer muda yang sukses menjadikan fotografi sebagai lahan bisnis menggiurkan. Sehebat apa bisnis mereka?

by a. mohammad bs

“Pandangannya ke arah kamera saja, sambil tersenyum. Posisi tidak berubah. Mas, tolong senyumnya dong! Oke, satu, dua, tii…,” Jepret, jepret, jepret…. Suara yang keluar dari kamera itu berbarengan dengan kilatan cahaya blitz. Sang fotografer tiada henti memberi aba-aba, sambil merunduk-runduk mencari posisi yang pas untuk mengambil gambar pasangan calon pengantin itu.

Tak berhenti di situ, David Soong, nama sang fotografer, mengajak pasangan calon pengantin dan lima kru yang membantu kegiatan pemotretannya ke luar ruangan. Pemotretan outdoor pun dilakukannya di bawah sengatan matahari yang terik. Toh, hal tersebut tak menyurutkan keseriusan fotografer muda itu menyelesaikan proyek pemotretan selama dua hari itu. “Ya, namanya kerja, harus mau capek. Saya harus memberikan yang terbaik kepada klien yang telah mengeluarkan uang untuk itu,” ujar David, kemudian.

Memang, tak jarang uang hingga ratusan juta rupiah mesti dikeluarkan si klien untuk bisa mengabadikan momen terindah dalam hidupnya. Dan, David merupakan salah seorang dari sejumlah fotografer muda yang cukup punya peruntungan di bisnis ini.

Setelah era generasi Tarzan, Darwis Triadi, dan para fotografer kawakan lainnya, kini makin banyak saja fotografer muda yang secara serius menjadikan kegiatan jeprat-jepret itu sebagai ladang bisnis mereka. Tak percaya? Tengok saja website Wedding Indonesia (www.weddingindonesia.com). Dari sekitar 270 fotografer yang menjadi mitra website tersebut, sebagian besar adalah fotografer muda. Mayoritas mereka mengambil positioning sebagai fotografer pernikahan.

Jasa fotografi dewasa ini memang tak bisa disamakan lagi dengan jasa fotografi di era juru foto keliling. Boleh dibilang, bisnis jasa ini sekarang sudah naik kelas. Tak mengherankan, banyak yang mematok tarif ratusan juta rupiah untuk sebuah proyek pemotretan. Maka, tak aneh pula sekarang bermunculan para photopreneur (photography entrepreneur) muda.

David, misalnya. Setelah menyelesaikan kuliah bidang bisnis di Seattle University, Amerika Serikat, dan mudik ke Tanah Air pada 2001, ia langsung mengembangkan studio foto Axioo Photography. Foto pernikahan menjadi pilihan jasa yang ditawarkannya. “Awalnya, dari hobi saja. Kenapa pilih wedding, karena kebetulan ketika itu saya lihat peluangnya masih terbuka luas,” ujar pria kelahiran Jakarta 28 tahun lalu itu. “Selain itu, banyak teman yang memberi support. So, saya pikir kenapa tidak dicoba. Eh, ternyata oke juga,” ujarnya lagi sembari tersenyum.

Menurut David, studio foto miliknya itu dikembangkan bersama istrinya, yang bertindak sebagai art designer. Awalnya, ia menyewa ruang di Hotel Intercontinental, Jakarta, untuk studionya. Sekarang studionya berlokasi di kompleks Taman Margonda, yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya. Alasannya, selain bisa lebih menghemat, ia pun semakin percaya diri dengan kekuatan nama dan brand studionya. “Mereka mengenal nama dan studio saya, kebanyakan dari mulut ke mulut. Banyak juga yang (kenal) dari website,” ungkapnya.

Menurut bapak seorang anak ini, dirinya hampir tidak pernah berpromosi atau beriklan, kecuali sesekali mengikuti pameran fotografi. Selain dari mulut ke mulut, order pemotretan juga sering datang melalui website yang dibangunnya (beralamat di http://www.axioo.com). “Website ini juga sekaligus berfungsi untuk lebih mempromosikan nama dan service yang saya tawarkan,” ucap David.

Sekarang, jika sedang ramai, sebulan David bisa menggarap 5-10 proyek pemotretan. Hebatnya, tak sedikit klien yang datang dari mancanegara. Tak jarang, pemotretannya dilakukan di luar negeri. Berbagai negara di sejumlah benua pernah disambanginya sebagai lokasi pemotretan. Tarifnya? “Sangat bervariasi. Tergantung permintaan klien,” katanya. Namun, rata-rata tarif yang dipasang David, Rp 50-250 juta/proyek. Tarif tersebut hanya untuk jasa pemotretan. Jadi, belum termasuk biaya packaging, desain, akomodasi, dan sebagainya. Jika ditotal, biayanya bisa lebih dari Rp 350 juta/proyek. “Dibandingkan negara lain, klien dari Indonesia lebih berani dalam mengeluarkan uang hingga ratusan juta untuk pemotretan wedding,” ungkapnya. “Maka, tarif ratusan juta rupiah sudah biasa.”

Boleh jadi, jasa fotografi David diminati pelanggan karena kualitas hasil jepretannya. Ia memang cukup dikenal sebagai fotografer muda yang kreatif. Salah satunya dengan memperkenalkan pendekatan candid photojurnalism. Kemampuan David mengabadikan momen-momen natural menjadi salah satu keistimewaan karyanya. Selain itu, ia juga terkenal inovatif dalam mengembangkan produk-produk yang terkait dengan fotografi, seperti wedding book yang memang menjadi hot item di acara pernikahan. Maklum, ia memiliki tim desain khusus yang dikepalai istrinya. “Axioo Photography terkenal karena memiliki packaging dan konsep yang bagus. Desainnya selalu berbeda untuk setiap klien. Kami menawarkan layanan yang bisa dikustomisasi,” ujar David, rada berpromosi. Rencananya, dalam waktu dekat ia akan meluncurkan jasa baru: fotografi bulan madu. Selain jasa fotografi, ia juga menawarkan layanan videografi untuk merekam hari-hari indah perkawinan. Tarif untuk videografi ini lebih murah, mulai dari Rp 20 juta.

Saat ini, untuk menjalankan bisnisnya, David dibantu lima fotografer profesional, 7 desainer dan tiga staf administrasi. Kendati persaingan semakin ketat dengan bermunculannya para fotografer baru, David tetap optimistis dengan prospek bisnis yang digelutinya. “Selama kita bisa memberikan yang terbaik kepada pelanggan, dan terus inovatif, order selalu ada,” ujar David membuka resepnya.

Selain David, ada beberapa nama fotografer muda yang cukup sukses menjadi entrepreneur fotografi, khususnya di kategori pernikahan. Contohnya, Kay Kay yang mengembangkan studio foto Moreno & Co. dan Marsio yang membuka Marsio Neo Classic Potraiture. Tarif pemotretan mereka patok Rp 10-200 juta/proyek. Lebih senior dari mereka ada Angling (Natural Art Photography) dan Indra Leonardi (Kings Foto).

Di luar kategori pernikahan, fotografer muda yang juga terbilang sukses sebagai pengusaha fotografi adalah Jerry Aurung. Lajang kelahiran Medan, 26 Mei 1976, ini lebih memilih bidang periklanan dan fashion sebagai objek jepretan kameranya.

Menurut Jerry, ketertarikannya menekuni fotografi awalnya juga sekadar hobi, yang dilakukannya sejak duduk di bangku SMA. Rupanya, order kecil-kecilan yang datang dari teman dan saudaranya selama kuliah makin memperkuat minat dia untuk menekuninya lebih serius. Maka, setelah menyelesaikan kuliah desain grafis di Institut Teknologi Bandung pada 1999, setahun berikutnya ia langsung menerjuni bisnis fotografi.

Untuk mempromosikan diri, Jerry memilih cara membuat promotional items, walau dalam format cukup sederhana. Ketika itu, ia membuat kalender kecil yang memuat fotonya sendiri dalam berbagai pose. Kalender yang dibuat sebanyak 200 eksemplar itu dibagikan secara acak ke berbagai perusahaan di Jakarta. “Saya cukup mengerti masalah branding dan promosi, sehingga pada saat memulainya, saya membuat promotional items. Semua itu saya lakukan sendiri,” kata Jerry mengenang.

Menurut Jerry, langkah promosi seperti itu sangat penting, sehingga harus secara reguler dijalankan. Karenanya, untuk lebih memasarkan nama dan jasanya, Jerry banyak melakukan kegiatan yang sifatnya promotional. Misalnya, menyelenggarakan pameran, lokakarya dan seminar, atau melakukan kunjungan ke kampus-kampus. “Tapi saya tidak beriklan (di media), karena model bisnisnya lebih ke arah B2B, bukan B2C,” ujarnya buru-buru.

Tampaknya usaha Jerry tidak sia-sia. Selang dua minggu dari penyebaran promotional items itu, muncul order dari Gulf Hurricane (sekarang Philip Conoco), yang memintanya memotret pabrik mereka di pedalaman Sumatera Selatan. Harga proyek perdananya itu Rp 45 juta dan diselesaikan dalam tiga hari. Setelah itu, pelan tapi pasti order pemotretan mulai mengalir.

Sekarang, diklaim Jerry, sebulan ia bisa mengerjakan 8-10 proyek pemotretan. “Kalau sedang ramai, dalam sebulan bisa menggarap 17-20 proyek,” ungkapnya bangga. Bahkan, selain membuka studio foto Jerry Aurung Photography (yang berlokasi di Arteri Pondok Indah), sejak pertengahan tahun lalu ia mengembangkan sayap bisnisnya ke Singapura. Di sini ia membangun studio foto yang fokus ke pemotretan fashion & art. Sebulan, minimal dua kali ia mesti terbang ke negara tetangga itu untuk memotret. Adapun tarif jasa pemotretan yang dibanderol Jerry Rp 15-150 juta.

Menurut Jerry, hampir 90% kliennya adalah kalangan korporasi. Sisanya datang dari perorangan, yang biasanya meminta jasa personal portrait. Diklaimnya, secara keseluruhan ia memiliki sekitar 200 klien korporat, antara lain HM Sampoerna, Unilever, Martha Tilaar dan XL.

Lantas, apa keistimewaan karya foto Jerry? Para peminat dan pelanggannya menilai karya Jerry memiliki diferensiasi yang jelas, sehingga ada pesan yang kuat dari foto yang dibuatnya. Selain itu, karakter karyanya juga bersifat mengglobal, karena tampaknya ia berupaya menanggalkan ciri keindonesiaan dalam setiap karyanya.

Selain fotografi, Jerry juga mengembangkan unit bisnis desain. Kegiatan usahanya, antara lain, pembuatan logo, identitas korporat, profil perusahaan, brosur, laporan tahunan dan kalender perusahaan. Untuk jasa desain grafis ini, ia pernah mengerjakan proyek pengembangan identitas korporat sebuah perusahan lokal yang nilai proyeknya sekitar Rp 1 miliar. Bisnis fotografi dan desain ini berada di bawah badan usaha PT Aurung Cipta Visual.

Secara keseluruhan Jerry telah mengerjakan sekitar 1.700 proyek, baik jasa pemotretan maupun desain grafis. Untuk menggerakkan bisnisnya tersebut, ia dibantu 17 staf, yang terdiri atas produser, account officer, desainer dan art director.

Diakui Jerry, yang punya obsesi mengembangkan usaha ke kawasan regional, bukannya tanpa jerih payah ia membesarkan bisnisnya. Maka, ia berupaya konsisten memegang prinsip yang selama ini diyakininya mampu menopang bisnisnya. Antara lain, senantiasa “lapar ilmu”. Walaupun ia sering menjadi dosen tamu di beberapa universitas — seperti ITB, Trisakti, Tarumanagara, hingga sekolah di Singapura — ia merasa dari kalangan audiensnya (mahasiswa) ia bisa mendapat umpan balik dan ilmu. “Yang terpenting, kita harus bisa mempertahankan persistensi dan konsistensi, dan have to stay clean,” kata Jerry memaparkan kiatnya.

(SWA, No. 20/XXIII/13-26 September 2007)

3 responses to “Para Photopreneur MudaBergelimang Order

  1. Hey man…thank you so much for the coverage. Seriously i never thought that the article will be published this way. Anyway, i hope that can inspire the next generation of young photographers.

    Cheers bro,
    -David Axioo

  2. Hallo..
    Boleh sharing tentang proyek foto.
    Saya baru mulai untuk menggarap proyek foto.
    Ada info tolong sharingnya.
    Terima kasih.

  3. Pingback: jurnal penelitian :LENTERA ILMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s