Andreas pun Berlabuh di Dell

Kabar mengejutkan bagi manajemen Hewlett-Packard (HP) — baik di Indonesia maupun di kantor pusat — ketika salah satu pilarnya di Indonesia, Andreas Diantoro, menyatakan mundur dari HP pada akhir Oktober 2005. Yang lebih mengejutkan, Andreas bergabung dengan salah satu musuh abadi HP dalam hal produksi dan penjualan, seperti personal computer (PC) built-up dan server, Dell.

“Terus terang, kami kaget juga mendengar Andreas resign dari HP, karena selama ini ia dikenal sangat menginternalisasi brand HP. Sebagai teman dalam 9 tahun terakhir, saya sedih juga. Tetapi kami coba melihat dari sisi positifnya, bahwa Andreas tertarik dengan tantangan-tantangan lain yang lebih baru,” ungkap Mulia Dewi Karnadi, Direktur Commercial Accounts & Grup Usaha Kecil-Menengah (UKM) Solusi Pelanggan PT Hewlett-Packard Indonesia.

Apalagi, sepengetahuan Dewi, Andreas tidak memiliki persoalan di HP. “Boleh jadi, Andreas mau membuktikan joke yang sering diucapkannya, bahwa pria memasuki usia 40 tahun memasuki midlife crisis, yakni ganti agama, ganti istri dan ganti pekerjaan. Nah, ganti agama dan istri tidak mungkin, yang bisa ganti pekerjaan,” ujarnya sambil tertawa.

Sosok Andreas memang sudah sangat melekat dengan HP. Tak hanya di Indonesia, tapi juga Singapura dan Australia. Ia pernah menjabat Corporate Account Representative HP di Singapura, Manajer Pengembangan Pasar HP di Australia, dan pada 1999 menjadi Manajer Country HP Indonesia. Sebelum ke HP, Andreas pernah berkarier di NeoStar Inc., Dallas-Texas, AS, dan PT Service Quality Centre Indonesia.

Pengalaman, prestasi dan otoritas Andreas di HP tak perlu diragukan lagi. Tahun 2003, penyandang gelar MBA dari Western Illinois University, AS, ini pernah mengantarkan HP Indonesia meraih penghargaan Best Country of the Year di seluruh Asia Pasifik dan Jepang. Sebuah penghargaan yang menggabungkan penilaian pada kinerja tim: penjualan, profitabilitas, pangsa pasar, manajemen, kepuasan karyawan dan kepuasan pelanggan. Penghargaan serupa juga diperolehnya tahun 2005.

Toh, semua itu tak menyurutkan minat Andreas bergabung dengan Dell. Walau beberapa tawaran dari sejumlah perusahaan melalui jasa headhunter menghampirinya — termasuk dari perusahaan multinasional di bidang entertainment — Andreas lebih memilih Dell. “Dell merupakan salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia yang memiliki model bisnis yang sangat unik. Ini membuat saya harus mempelajarinya lebih dalam lagi,” katanya.

Selain itu, ia menambahkan, ruang lingkup Dell sebagai perusahaan global yang beroperasi di banyak negara menjadi footprint yang sangat kuat. “Walau saya sudah memiliki pengalaman internasional, secara pribadi saya belum pernah memegang sebuah region. Memang di HP saya sudah nyaman, tapi bagi orang seumur saya, dengan posisi seperti itu di perusahaan yang lama berbahaya, karena sudah terlalu nyaman. Pada dasarnya, ini merupakan pengembangan diri bagi saya,”Andreas mengungkapkan.

Bagi Andreas, meninggalkan HP juga bukan keputusan mudah. Ini bisa dibuktikan dari lamanya proses negosiasi dengan Dell yang memakan waktu hingga 6 bulan. Baru pada akhir Oktober tahun lalu Andreas resmi masuk Dell, dengan opsi dan jabatan yang menggiurkan. Selain memimpin dan mengelola bisnis Dell di Indonesia sebagai Direktur Pengelola, ia pun dipercaya sebagai Direktur Pengelola Dell Asia Selatan dan Grup Developing Markets, yang membawahkan 20 negara berkembang lainnya di kawasan ini.

Yang lebih menarik lagi, kelahiran Jakarta, 12 September 1968, ini diberi hak eksklusif oleh Dell, yakni diperbolehkan bermarkas di Jakarta. “Ini suatu hal yang istimewa. Sebab, setahu saya belum pernah ada region head perusahaan yang sifatnya major yang diperbolehkan berbasis di Jakarta,” ujarnya.

Boleh jadi, ditariknya pehobi bola basket ini merupakan salah satu upaya Dell memperkuat keberadaannya di Indonesia dan Asia Selatan. Terlebih lagi, sejauh ini Dell masih kesulitan mengangkangi pasar Indonesia. “Andreas bergabung membawa pengalamannya yang matang dalam hal pengembangan bisnis, pemasaran dan manajemen di bidang industri teknologi pada pelaksanaan operasional di Indonesia. Dengan kondisi Asia Selatan yang sedang membaik, Andreas akan memastikan bahwa nilai-nilai optimal senantiasa disampaikan kepada pelanggan dan membangun kemitraan yang kuat,” ujar Paul-Henri Ferrand, Vice President Dell Asia Selatan, dalam keterangan persnya.

Andreas menganggap penunjukan Dell ini sebagai bentuk kepercayaan dan sekaligus menjadi tantangan baginya. “Saya menilai, ini sebuah penghargaan atas pengalaman dan local knowledge yang saya miliki. Saya tidak menjanjikan apa-apa. Saya hanya bilang, akan membantu Dell memperkuat posisinya di Indonesia dan kawasan Asia Selatan, dan membantu Dell membangun tim yang kualitasnya kelas dunia.”

Disebutkan Andreas, tugas utama yang dibebankan di pundaknya adalah meningkatkan kinerja sehingga Dell bisa mencapai posisi pertama di setiap segmen pasar dan ujung-ujungnya meningkatkan kepuasan pelanggan. Untuk mencapai maksud tersebut, ia terlebih dulu akan melakukan penilaian (assessment) terhadap tim, mitra bisnis dan pelanggan, sehingga mendapat umpan balik mengenai apa yang mesti dilakukan. “Setelah melakukan assessment, baru saya melakukan manuver-manuver yang ujung-ujungnya meningkatkan customer satisfaction. Karena tujuan kami cuma satu: customer satisfaction.”

Namun, hengkangnya Andreas ke Dell tidak membuat HP khawatir pasarnya bakal tergusur. Seperti diungkapkan Dewi, setiap perusahaan memiliki strategi tersendiri. Apalagi, perubahan di dunia teknologi informasi berlangsung sangat cepat. Lagi pula, HP sangat percaya pada kekuatan sendiri, yakni memiliki sistem yang baik, termasuk market intelligence, yang juga diklaimnya berjalan dengan baik. Walaupun Andreas datang ke Dell dengan pengalaman dan pengetahuan yang dibawanya dari HP, belum tentu kedua hal itu bisa diterjemahkan langsung di sana karena perubahan kompetisi pasar terjadi sangat cepat. “HP sendiri akan terus berubah. Boleh jadi yang diketahui Andreas di HP, dalam beberapa bulan ke depan sudah berubah,” kata Dewi.

Sejujurnya, tugas Andreas terbilang berat. Di Indonesia, misalnya, meski International Data Corporation menyebutkan bahwa di segmen korporasi besar Dell memimpin pasar, terutama untuk PC, di segmen consumer dan UKM, Dell masih kesulitan menembus dominasi HP, IBM/Lenovo, Acer dan Toshiba. “Memang untuk total market, Dell di Indonesia masih kecil. Selama ini Dell hanya main di enterprise, tidak main di segmen small-medium business dan consumer. Tugas saya sekarang adalah memperkuat posisi enterprise dulu, setelah itu akan melangkah masuk pasar small-medium business dan consumer. Tetapi, saya optimistis dengan kredibilitas Dell,” ujar Andreas.

(SWA 01/XXII/ 12 Januari 2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s