Nama Huawei memang tak sepopuler Ericsson, Nokia, Siemens, Alcatel atau Motorola. Maklum, keberadaannya di industri telekomunikasi relatif baru dibanding pemain lainnya. Terlebih di Indonesia, usianya baru seumur jagung.
by a.mohammad bs & moh. husni mubarak
Toh, belakangan namanya makin mencorong seiring tumbuhnya industri telekomunikasi di Tanah Air. Dalam waktu relatif singkat, Huawei telah menjadi penantang serius bagi Ericsson dan Nokia-Siemens Networks di jagat industri infrastruktur telekomunikasi. Sejak didirikan tahun 1988, perusahaan asal Cina ini telah melayani 35 dari 50 operator terkemuka di dunia, baik produk maupun solusinya.
Di Indonesia, Huawei mulai masuk pada 2000 melalui PT Huawei Tech Investment (HTI). Hebatnya, kini Huwaei telah menjadi salah satu pemain utama penyedia solusi telekomunikasi bagi operator besar, seperti Telkom, Indosat, XL dan Bakrie Telecom, juga buat operator kecil seperti Mandara Selular. Produk yang dipasarkan adalah produk portofolio nirkabel, produk jaringan inti, produk switch aplikasi dan software berbasis Internet Protocol serta terminal. Diperkirakan kini HTI menguasai lebih dari 20% total pasar solusi telekomunikasi di Indonesia.
Ma Yue, Presdir HTI, menjabarkan produk-produk Huawei terdiri dari perangkat GSM, 3G, UMTS, CDMA, WiMax, transmisi, Fixed Line Network, optical transmission, data dan komunikasi, Broadband Access Network, Core Network (NGN & Mobile Softswitch), aplikasi dan software, serta berbagai terminal (telepon seluler, terminal seluler tetap dan kartu data). Ia mengklaim, produk-produknya telah digunakan secara luas oleh 9 operator di Indonesia.
Disebutkan Yue, keberhasilan Huawei masuk ke pasar infrastruktur telekomunikasi Indonesia, karena fokus pada tantangan dan kebutuhan pelanggan dalam menyediakan solusi dan layanan jaringan. Selain itu, ia mengklaim pihaknya mampu memberikan nilai tambah kepada pelanggan. “Pelayanan kepada pelanggan telah menempatkan Huawei di posisinya sekarang,” ujarnya. Di antaranya dengan memberi respons cepat.
Sebagai salah satu bentuk respons cepat tersebut, pada Desember 2008 Huawei telah membuka Pusat Penelitian dan Pengembangan (R&D Centre) dan Pusat Pelatihan di Jakarta. “Pusat R&D akan fokus pada pengembangan desain aplikasi perangkat lunak yang sesuai untuk pasar Indonesia,” Yue berucap. Melalui cara itu, ia mengklaim Huawei bisa memberi nilai tambah kepada rekanan operator di Indonesia, khususnya dalam wujud konten dan value-added services (VAS). “Inovasi produk dan solusi-solusi terus kami kembangkan,” Yue menambahkan.
Saat ini, HTI telah membangun 8 pusat layanan, 13 pusat suku cadang dan 9 pusat logistik di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pelanggan secara cepat. Huawei juga telah membuat forum layanan, program pelatihan ahli dan menyediakan layanan jasa, serta berbagai layanan lainnya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Ke depan, lanjut Yue, sebagai upaya menjadi penyedia solusi telekomunikasi terkemuka di Indonesia, pihaknya akan terus meningkatkan kerja sama dengan mitra lokal seperti subkontraktor, penyedia konten (content provider), perusahaan teknologi informasi, serta berbagai universitas dan institusi untuk membantu mengembangkan industri telekomunikasi Indonesia. “Huawei akan terus mengembangkan dan menyediakan produk dan jasa inovatif, unggulan, hemat biaya, serta disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan,” Yue menjanjikan
Salah satu operator pelanggan Huawei adalah Bakrie Telecom (B-Tel). Menurut Rahmat Junaidi, Direktur Layanan Korporat B-Tel, sejak awal B-Tel sudah bekerja sama dengan Huawei. Menurutnya, kualitas jaringan yang diberikan Huawei cukup baik. Selain itu, dari segi harga cukup kompetitif. “Positioning bagi telco, covering-nya adalah murah dan terjangkau. Huawei bisa. Kualitasnya baik, dan layanan pascajualnya juga cukup baik,” tutur Rahmat. Selain Huawei, vendor lain yang memasok infrastruktur jaringan B-Tel adalah Nortel Networks.
Menurut Rahmat, infrastruktur dan jaringan yang baik dibutuhkan demi kepuasan pelanggan, sehingga bisa menopang eksistensi perusahaan. Sebagai operator penyelenggara telepon tetap-nirkabel (FWA), B-Tel tumbuh pesat melalui produk Esia-nya. “Untuk bisa bersaing dengan operator lain, selain covering jaringan, juga harus bisa menyediakan produk yang murah dan terjangkau. B-Tel memilih Huawei sebagai salah satu vendor yang melayani kebutuhan jaringan ataupun untuk program bundling handset,” Rahmat memaparkan.
Di mata pengamat industri telekomunikasi Heru Sutadi, keberhasilan Huawei menjadi salah satu pemasok utama infrastruktur jaringan operator telekomunikasi di Indonesia, karena momen masuknya tepat. Ia mengungkapkan, pada era 1990-an hingga krisis ekonomi, vendor Amerika Serikat dan Eropa sangat menguasai pasar telekomunikasi di Indonesia. Namun, melonjaknya nilai dolar terhadap rupiah memukul industri ini karena pembayaran dilakukan melalui dolar. “Kondisi krisis moneter memberi kesempatan bagi vendor yang menjual produknya lebih murah, seperti Huawei. Mereka juga cukup berani menyediakan cara financing yang lebih fleksibel,” ujar Heru.



