Jurus Dagang Simpatik ala Microsoft Pasca-Sweeping

Pembajakan karya kreatif di Indonesia memang bikin pening kepala para pelaku bisnis. Salah satunya yang menonjol adalah pembajakan peranti lunak (software). Bahkan, menurut data yang dirilis Business Software Alliance (BSA), aliansi vendor software untuk bisnis, tingkat pembajakan peranti lunak di Indonesia mencapai 85%. Karena produk software-nya amat populer dan tergolong yang paling sering dibajak, Microsoft tentu merasa amat berkepentingan dengan penanganan masalah ini. Tak heran, beberapa waktu lalu Microsoft – yang juga pendukung utama BSA – tergolong rajin membantu upaya sweeping peranti lunak ilegal yang dilakukan aparat ke berbagai perusahaan, pertokoan software hingga warnet. Toh, pembajakan tetap saja berlangsung.

by a. mohammad bs

Belakangan, Microsoft lebih memilih langkah persuasif. Sejumlah program kampanye untuk meningkatkan pemakaian produk asli terus digiatkan, mulai dari promosi, edukasi hingga pemberian diskon harga secara istimewa. “Microsoft Indonesia mempunyai beberapa program pemasaran produk yang memang dirancang untuk bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat menggunakan produk asli,” ujar Anti Suryaman, Manajer License Compliance PT Microsoft Indonesia (MI).

Anti mengakui ada beberapa program yang dirancang khusus untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya Hak Atas Kekayaan Intelektual dan penggunaan produk orisinal, antara lain program Windows Genuine Advantage. Lewat program ini pengguna software asli dapat mengunduh dengan gratis aneka software seperti Internet Explorer 7, Photo Story, Movie Maker, dan sebagainya. Iming-iming lainnya adalah pemberian voucher senilai US$ 100 bagi setiap pembelian sistem operasional Windows asli.

Program lainnya adalah Software Asset Management, yang menawarkan konsultasi gratis bagaimana perusahaan pengguna bisa memaksimalkan teknologi atau fitur dari software yang dibelinya, juga untuk memperoleh catatan lengkap mengenai pembeliannya (sistem inventori single data). Dengan begitu, jika ada proses audit, mereka dapat memberikan datanya. “Program-program itu dilakukan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan para pembuat software lokal, kalangan industri pendidikan, pemerintah, dan organisasi yang fokus pada penghargaan karya cipta orang lain,” Anti menjelaskan.

Selain itu, MI juga memiliki beberapa program yang ditujukan untuk lebih memasyarakatkan produknya. Antara lain: melampirkan 200 ribu CD pelatihan MS Office 2007 pada media-media cetak komputer; pelatihan Office Her, di mana para ahli software ini memberi pelatihan kepada karyawan suatu perusahaan; memberi diskon hingga 80% untuk dunia pendidikan; dan yang paling anyar, menawarkan program solusi bagi UKM, yakni Microsoft Office Prepaid (MOP).

Indonesia merupakan pilot project di Asia Pasifik, setelah program MOP ini sukses di Afrika Selatan dan Rumania. “MOP merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk memberdayakan UKM agar mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk menggunakan produk dengan kualitas terbaik,” ujar Ari Kunwidodo, Direktur OEM MI.

Dijelaskan Ari, melalui program tersebut, pelanggan hanya perlu membayar US$ 10 per bulan untuk pemakaian MS Office selama satu tahun. Pasalnya, lanjut Ari, di dalamnya ada paket perdana senilai US$ 50 untuk pemakaian selama 6 bulan, dan dua kartu isi ulang senilai US$ 35 per unitnya yang dapat dipakai selama tiga bulan. Dengan membeli paket ini, pelanggan dapat menikmati produk MS Office Professional 2007, yang terdiri dari aplikasi MS Word, Excel, PowerPoint, Outlook dengan Business Contact Manager, Access, dan Office Publisher 2007. Ari optimistis hingga pertengahan tahun ini bisa menjual 10 ribu unit MOP. Untuk itu, ia telah menggandeng sebanyak 300 mitra (toko) di pusat pertokoan Mal Mangga Dua, Dusit Mangga Dua, Harco Mangga Dua dan Harco Mas.

Dijalankannya program kemitraan ini diamini oleh salah satu mitra MI, Febri Joeng. Menurut pemilik toko komputer Data KreasiSystem di Dusit Mangga Dua ini, berbagai produk Microsoft dijualnya, termasuk MOP. “Saya sih yakin MOP ini bisa laku. Sebab, ada kecenderungan penggunaan software asli terus meningkat,” ujar Febri.

Ari mengklaim, dalam satu-dua tahun terakhir bisnis MI mampu tumbuh rata-rata 28%. Bahkan, di Asia Tenggara MI yang terbaik atau lebih bagus dibandingkan dengan emerging market lainnya.

Adanya perubahan pendekatan yang dilakukan MI tersebut dibenarkan pengamat dan konsultan teknologi informasi Budi Rahardjo. “Sekarang Microsoft lebih banyak menawarkan beragam pilihan ketimbang cara-cara keras seperti sweeping,” kata Budi mengomentari. Toh, menurut dosen Institut Teknologi Bandung ini, sebenarnya ada cara yang lebih ampuh, yakni mestinya Microsoft tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, melainkan juga membuat semacam pusat riset dan dokumentasi di Tanah Air. “Ini akan memberikan efek positif bagi Microsoft. Keberadaan para ISV (independent software vendor, mitra pengembang Microsoft – Red.) saja belum cukup, karena hanya menjadikan Indonesia sebagai montir, integrator atau instalator,” papar Budi.

Leave a Reply