Aman Dulu, Baru Nyaman

September 27, 2007

Mengantisipasi datangnya ancaman dari lingkungan eksternal ataupun internal, sejumlah perusahaan meningkatkan sistem keamanannya. Bagaimana praktiknya?

by a. mohammad bs

Memasuki pelataran parkir Menara Bank Mega di Jl. Kapten Tendean, Jakarta, terlihatlah kesan pengamanan yang ketat. Beberapa orang satuan pengaman (satpam) berwajah tegas lengkap dengan alat detektornya menghentikan setiap mobil yang masuk dan meminta dibukakan pintunya untuk diperiksa. Lalu, sebelum masuk lobi gedung, lebih dulu harus melewati pintu detektor (walk through detector). Tak cuma itu, para tamu pun mesti antre di meja resepsionis yang akan mendata: nama, asal (perusahaan), serta maksud dan tujuan kedatangan. Setelah mengonfirmasi ke pihak yang dimaksud dan meminta kartu tanda pengenal (KTP) untuk ditukar dengan kartu ID pass, tamu pun dipersilakan masuk. Nah, ID pass ini digunakan untuk bisa masuk ke lift. Di lobi, setidaknya ada tiga lini screening yang menuju ke lift.

“Tadi di meja resepsionis sudah difoto?” tanya Kostaman Thayib, Direktur Retail Banking Bank Mega, pada suatu ketika SWA hendak mewawancarainya. Rupanya, berbarengan dengan pendataan yang dilakukan resepsionis, proses pemotretan pun sedang berlangsung. Tentu saja para tamu tidak sadar, karena memang kameranya tersembunyi. Artinya, setiap tamu yang datang ke Menara Bank Mega wajahnya akan terekam dan menjadi barang dokumentasi. Read the rest of this entry »


Mau Terima Barang Kiriman? Dipotret Dulu, Dong!

September 24, 2007

Kepastian sampai-tidaknya kiriman ke tempat tujuan masih menjadi masalah yang mengganggu perusahaan jasa kurir di Tanah Air. Caraka mengatasinya dengan memadukan teknologi seluler, Internet dan aplikasi image tracking. Apa manfaatnya buat petugas ataupun pelanggan?

“Halo Mbak, saya mau tanya, saudara saya bilang katanya belum menerima paket yang saya kirim, kenapa ya? Padahal, saya sudah kirim beberapa hari lalu,” kata seorang pelanggan di ujung telepon kepada staf layanan pelanggan.

Komplain seperti itu di industri jasa kurir masih kerap terjadi. Sementara itu, berpegang pada selembar slip bukti penerimaan yang telah ditandatangani, pegawai kurir mengklaim barangnya sudah dikirimkan dan diterima seseorang. Di sini, kedua belah pihak bisa saja benar, tapi bisa juga ada yang berbohong. Read the rest of this entry »


Dari Perang Harga Hingga Layanan Inovatif

September 20, 2007

Bisnis web hosting terus tumbuh sejalan dengan meningkatnya penggunaan Internet di Tanah Air. Karena entry barrier-nya rendah, pemainnya mencapai ratusan. Harga murah pun jadi tawaran utama. Seperti apa kompetisinya?

“Benar-benar murah! Hanya dengan Rp 1.000/bulan Anda sudah dapat web hosting untuk website Anda, dengan layanan tetap prima. Tersedia juga untuk bisnis dan corporate. Domain name hanya Rp 89.000/bulan. Buktikan! Kami selalu online 24 jam untuk melayani Anda.” Read the rest of this entry »


Mahalnya Ketersediaan dan Kesegaran Produk

September 13, 2007

Untuk mengatasi masalah inefisiensi dalam manajemen inventorinya, Ranch Market memutuskan mengganti sistem lamanya dengan yang baru. Meski biayanya tak sedikit, hasilnya lebih dari harapan semula.

Seorang wanita berusia sekitar 30 tahun tampak sigap mengambil berbagai jenis produk yang terpajang di gondola Ranch Market Kebon Jeruk. Ivone, nama wanita itu, ditemani pembantunya yang mendorong troli. Ia hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk membeli beragam produk makanan, sayuran dan buah-buahan. Padahal, troli yang sebenarnya berukuran cukup besar itu hampir terisi penuh. “Saya setiap minggu rutin berbelanja ke sini. Selain karena jaraknya dekat dengan rumah, semua kebutuhan yang saya perlukan tersedia di sini,” tutur Ivone. “Kondisi produknya juga selalu bagus dan segar. Itu salah satu daya tarik yang membuat saya datang ke Ranch Market, walaupun harga produknya memang lebih mahal,” ia menambahkan. Read the rest of this entry »


Mahendra Jaya: Perantau yang Sukses di Tanah Dayak

September 10, 2007

Merantau ke Pontianak pada medio 1980-an, Mahendra Jaya hanya berbekal semangat, kerja keras dan sedikit uang di saku. Toh, ia mampu menjadi salah satu pengusaha ternama di Kalimantan Barat.

Bermula pada 1986, Mahendra dibantu seorang karyawan mulai mencoba membuka usaha kecil di bidang percetakan, tepatnya usaha sablon. Modal usahanya pun hanya sekitar Rp 1,5 juta, yang digunakan untuk membeli cat dan kain. Bisnis sablon itu bertahan hingga 1998, lantaran Mahendra ingin mengubah haluan. Ia mengaku kala itu mencium peluang usaha di bidang lain yang lebih menjanjikan keuntungan besar, yakni pengadaan pupuk. “Saya mendengar kalangan perkebunan butuh pupuk, makanya saya coba jual-beli pupuk. Saya nekad saja,” ungkap Mahendra mengenang. Read the rest of this entry »