Ketika pasangan pengusaha sukses Tony-Doris Phua membangun Da Vinci Tower di Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, tiga tahun lalu, banyak kalangan menduga menara megah dengan ornamen Yunani klasik itu hanya akan dipakai sebagai showroom untuk memajang produk-produk furnitur Da Vinci. Maklum, sebagai pemain bisnis furnitur mewah, Da Vinci dikenal memiliki varian produk yang banyak dan selalu berganti-ganti sehingga butuh properti luas untuk memajangnya. Namun, sekarang orang tahu ternyata di menara megah setinggi 36 lantai itu juga ada peruntukan buat unit-unit apartemen supermewah, yang disebut Da Vinci Penthouse (DVP).
DVP mengambil lokasi di lantai 14 hingga 32 di Da Vinci Tower. Jumlah unit apartemen yang dipasarkan sengaja dibuat terbatas (eksklusif), hanya 28 unit. Dengan jumlah unit terbatas, diharapkan para penghuni lebih leluasa menikmati fasilitas penthouse, seperti lapangan tenis, kolam renang, sauna, ruang perpustakaan, private fitness centre, function hall, dan sebagainya. Sejauh ini ada tiga tipe unit yang dipasarkan, yakni Penthouse, Deluxe Penthouse dan Grand Penthouse. Tiap unit memiliki luas 453 m2 dan 416 m2. “Da Vinci Penthouse ini satu-satunya penthouse dengan gaya desain klasik di Asia,” ujar Erwin Hawawinata, GM Da Vinci Indonesia.
DVP sendiri dibangun dengan tiga konsep, yakni: secure, privasi dan elegan. Secure karena sistem keamanannya terjamin dengan pengawalan 60 satpam – 30 jaga siang dan 30 lainnya tugas malam. Jadi, tiap tamu yang datang akan didampingi seorang satpam hingga bertemu dengan penghuninya. Apartemen ini juga dilengkapi beragam alat pengaman canggih. Mulai dari private card access yang sudah diprogram, sistem videophone, finger scan, CCTV monitoring dan valet parking selama 24 jam. Sementara privasi diwujudkan dengan jumlah unit yang terbatas dan lift privat untuk akses privat. “Jadi tidak ada istilah tamu yang hilir-mudik, naik-turun. Privasi sangat diprioritaskan,” Erwin menegaskan.
Adapun konsep elegan diperlihatkan dari detail eksterior dan interiornya. Selain semifurnish, setiap unit DVP memiliki ketinggian hingga 4,2 meter. Padahal ketinggian standar apartemen umumnya 2,8 hingga tiga meter. Lalu, penthouse yang pembangunannya memakan waktu selama tiga tahun ini menggunakan material yang diimpor dari Spanyol, Italia dan Amerika Serikat. Bahan-bahan seperti marmer untuk lantai, saniter, dapur dan pantri, semuanya impor. Begitu pula dengan interior fitting, seperti daun pintu, tata lampu (lighting) dan furnitur. Bahkan, DVP menjadi satu-satunya bangunan penthouse di Indonesia yang menggunakan sistem triple glassing yang memberikan kenyamanan ekstra berupa extrasound proof dan temperatur konstan. Pengelola juga memberikan bantuan cuma-cuma dalam hal desain interior agar hasilnya sesuai dengan citarasa dan keunikan pribadi si pemilik.
Pendeknya, Erwin menyebutkan, pihaknya berani menjamin pelayanan di DVP setaraf dengan hotel berbintang 6, seperti menyediakan chef terlatih. “Semua fasilitas bersifat free of charge. Tak ada extracharge untuk semua fasilitas yang ada di DVP. Itulah kelebihan yang kami tawarkan,” kata Erwin.
Toh, kemewahan itu semua sepadan dengan harganya yang superpremium, yakni sekitar Rp 10 miliar per unit. Selisih harga di antara kedua tipe ukuran US$ 70 ribu dengan perbedaan pada area servis, seperti kamar tidur pembantu dan pantri. “Tidak mahal. Ini sudah harga pasaran. Apartemen mewah lainnya di Jakarta kisaran harganya juga segitu,” ucap Erwin enteng. Menurutnya, harga yang ditawarkan reasonable, sebanding dengan kemewahan dan layanan personal yang diberikan.
Nah, inilah hebatnya orang Indonesia. Meski per unit harganya sekitar Rp 10 miliar, apartemen supermewah ini tak kesulitan mencari pembeli. Boleh dibilang tanpa promosi dan hanya mengandalkan pemasaran melalui database, sejak dibuka beberapa waktu lalu apartemen mewah ini sudah terjual 10 unit. “Umumnya para tenant adalah kalangan pengusaha, baik yang tinggal di Jakarta maupun di luar kota. Sambutannya memang luar biasa,” ujar Erwin seraya menjelaskan targetnya 18 unit penthouse bisa terjual hingga akhir tahun. Optimisme ini, menurutnya, karena tidak akan ada DVP kedua dan seterusnya, sehingga yang sekarang ini bakal habis dibeli. “Kami bukan pebisnis properti. Kami membangun Da Vinci Penthouse lebih untuk mewujudkan ide pemilik yang ingin menciptakan hunian eksklusif dilengkapi furnitur Da Vinci,” ungkap Erwin.
Steven Tjen, Direktur PT CB Richard Ellis Indonesia, menilai harga penthouse yang ditawarkan DVP sebenarnya tak mahal. “Harga Rp 10 miliar untuk apartemen seluas 453 m2 di lokasi ini memang pantas. Apalagi apartemen ini sudah selesai,” ujar Steven. Perhitungannya, sambung Steven, angka Rp 10 miliar dibagi 456 m2 berarti sekitar Rp 21,9 juta per m2, atau sekitar US$ 2.200 per m2. “Apartemen lain yang setara bisa dijual dengan harga US$ 2.500 per m2,” ungkap praktisi properti ini. Steven menilai, apartemen berlabel Da Vinci memiliki keunggulan sendiri dan juga punya fans atau pasar sendiri, yaitu mereka yang menyukai produk furnitur Da Vinci. Mereka menggarap niche market ini. Selain itu, jika apartemen lain menggunakan merek sang operator dan mengaitkan apartemen mereka dengan servis dari operatornya – semisal Apartemen Four Seasons, Apartemen Ritz Carlton, Shangri-La Residence, Kempinski Residence, dan Apartemen Sahid – maka DaVinci menggunakan merek Da Vinci sendiri sebagai proposisi uniknya. “Ini strategi yang tepat karena mereka mengaitkan apartemen dengan produk mereka yang unggul,” Stephen memberi ulasan.



