“Mainan” Baru Willy Sidharta

Rupanya, “mainan” baru telah disiapkan Willy Sidharta begitu nanti lengser dari posisi komandan PT Aqua Golden Mississippi (AGM). Meski mengaku sudah mengajukan pengunduran diri sejak 19 Juni 2006, Willy hingga saat ini memang masih menjabat Presdir AGM karena belum ada penggantinya. “Saat ini saya masih menjabat Presiden Direktur Aqua, karena belum ada penggantinya. Tetapi, posisi VP Operasional di PT Tirta Investama (holding), sejak Maret lalu sudah terisi,” ucapnya.

“Mainan” baru yang disiapkan Willy itu ternyata masih berkaitan dengan air minum, yakni bisnis pengemasan untuk air minum dalam kemasan (AMDK). “Dalam hidup, kita harus mempunyai target. Saya pernah berjanji pada diri sendiri dan keluarga bahwa pada usia 60 tahun akan mengundurkan diri sebagai profesional dan akan mengembangkan usaha sendiri,” ungkap Willy, yang pada 10 November nanti genap berusia 60 tahun. Soal mengapa memilih bisnis kemasan, ia menyebutkan harus mengukur keahlian yang dimiliki. “Saya sudah bergelut lama di industri kemasan, sehingga memiliki modal pengalaman. Lagi pula, kalau harus mengembangkan bisnis yang betul-betul baru, saya harus belajar lagi. Itu akan memakan waktu lama dan risiko tinggi, sehingga memakan biaya lebih besar,” paparnya jujur.

Untuk mengembangkan bisnis kemasan ini Willy tidak sendirian, melainkan bermitra dengan tiga orang pengusaha kemasan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Komposisi kepemilikan sahamnya sama, yakni masing-masing 25%. Pada Oktober 2005 mereka telah sepakat membentuk PT Mitra Sentosa Plastik Industri (MSPI). Namun, pembangunan pabriknya baru dilakukan pada Maret 2006. Berlokasi di Semarang, pabrik seluas 5.200 m2 itu dibangun di atas lahan 1,4 hektare. Sebagai bisnis padat modal, investasi yang dibenamkan pun cukup besar. Untuk investasi awal telah digelontorkan Rp 40 miliar, yang digunakan untuk membangun pabrik dan membeli satu unit mesin pembuat kemasan dari Jerman. “Untuk permodalan merupakan gabungan dari modal sendiri, sebagian pinjaman pemegang saham yang tidak berupa modal disetor, dan pinjaman dari bank,” ungkap Willy, yang akan menjabat presdir di perusahaan barunya itu. Adapun break even point ditargetkan dalam lima tahun ke depan.

Dijelaskan Willy, nantinya pabrik seluas itu bisa menampung 6 mesin. Hingga akhir tahun ini ditargetkan MSPI sudah bisa memiliki tiga unit mesin. Ini sesuai dengan peruntukan produk yang akan dihasilkan, yakni kemasan kap (cup), tutup botol dan sedotan (stroll). Satu mesin pembuat kap yang didukung sekitar 80 orang, diperkirakan mampu memproduksi 80 ribu kap per jam, atau 55 juta kap per bulan. “Awal November tahun ini, ditargetkan sudah bisa memproduksi 40%-50% dari kapasitas produksi,” kata Willy.

Menurut Willy, nantinya kemasan yang diproduksi MSPI akan dipasok ke semua level perusahaan AMDK, baik besar maupun kecil. Pertimbangannya, perusahaan besar memang punya volume pemakaian tinggi, tapi pembayarannya kerap terlambat hingga dua bulan. Sementara perusahaan kecil, walaupun ordernya sedikit, pembayarannya sudah dilakukan di muka. Ia mengklaim, saat ini beberapa perusahaan AMDK sudah bersedia mengorder, seperti Club di Ja-Tim, dan Vit (milik AGM).

Walaupun pertumbuhan bisnis AMDK diperkirakan tidak bakal sampai 10%, Willy optimistis bisnis kemasannya bisa berkembang. Pasalnya, ia mengklaim produknya memiliki beberapa keunggulan. Antara lain, memiliki life-weight lebih rendah dibandingkan dengan produk kompetitor. Jika produk lain umumnya memiliki berat 4-4,5 gram, produk kemasan buatan MSPI hanya 3,2 gram. Selain itu, lanjut Willy, nantinya kemasan yang diproduksi pihaknya akan memiliki desain yang spesifik dan bisa dikustomasi (customize) sesuai dengan permintaan. “Dengan life-weight yang lebih rendah pun, harga yang kami tawarkan akan lebih murah dibandingkan dengan produk lain,” ia menegaskan. Jika harga pasaran sekarang Rp 90-100 per kap, pihaknya berani menjual Rp 80 per kap.

Bapak dua anak ini punya obsesi mengembangkan MSPI menjadi perusahaan one stop shopping provider untuk kemasan produk makanan dan minuman (F&B). Jadi, dalam bayangannya sebuah perusahaan bisa membeli botol dan tutupnya, kap dan tutupnya, sedotan, dan sebagainya, cukup dari MSPI, tidak perlu lagi mengorder ke empat-lima perusahaan pemasok. Selain itu, walaupun produk kemasan ini bukan untuk end user, Willy berkeinginan produknya itu nanti akan memiliki merek. “Saya melihat suatu opportunity yang besar di bisnis kemasan seiring perkembangan bisnis F&B yang sangat dinamis,” katanya bersemangat.

Memang, di bisnis AMDK, Willy cukup sarat pengalaman. Bagaimana tidak, selama 33 tahun kakek dari satu cucu ini bergelut di bisnis AMDK, mulai dari bagian pengembangan produk, riset dan pengembangan, hingga pembuatan kemasan untuk AMDK. Willy bergabung dengan AGM sejak Juni 1973 sebagai mandor pabrik hingga kepala pabrik. Puncaknya, pada 1987, Willy didaulat sebagai presdir. Di bawah komando Willy, bisnis AGM terus berkembang, termasuk pengembangan sejumlah perusahaan join ventura dengan investor lokal, seperti di Sukabumi, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi.

Di luar MSPI, sebenarnya Willy juga masih memiliki “mainan” yang lain, yakni bisnis tisu untuk AMDK di bawah bendera PT Civita Flexita. Perusahaan yang dikelola istrinya, Ratih Ningsih Dharmawan itu berdiri sejak 1991 dan hanya memasok kebutuhan tisu untuk Grup Aqua. Menurut Willy, sekitar 60% kebutuhan tisu grup AMDK itu dipasok dari perusahaannya. Saat ini, pabriknya yang berlokasi di kawasan Kapuk, Jakarta, memproduksi 8-9 pieces per bulan, dari total kapasitas produksinya yang mencapai 15 juta pieces per bulan.

Selain itu, sejak 2004, Willy dengan seorang koleganya juga mengembangkan bisnis di bidang permesinan dengan mendirikan PT Red Matrix Indonesia (RMI). Perusahaan ini memproduksi mesin-mesin kecil untuk pengemasan teh, kopi, obat, dan sebagainya. Malah, mulai awal tahun ini RMI bukan sekadar menjual peralatan dan mesin, melainkan juga menawarkan solusi otomasi. Sekarang, PT Frisian Flag, Sariwangi dan Wings Food telah menjadi kliennya. Seperti halnya di perusahaan yang dikelola istrinya, di RMI pun Willy menjabat sebagai preskom, sedangkan operasional bisnis dipegang mitra bisnisnya. “Saya mempunyai misi dalam hidup, supaya bisa berbagi dengan orang lain. Jadi, tujuan utama saya mengembangkan sebuah bisnis adalah agar bisa memberi makan kepada banyak orang. Ini kedengarannya seperti omong kosong, tapi, ya terserah orang yang menilai,” ungkap Willy dengan mimik serius.

(SWA 20/XXI/ 21 September 2006)

Leave a Reply