Beli Notebook Pun Kini Bisa Customized

March 28, 2007

Merek notebook di pasar lokal makin beragam saja. “Saat ini industri mobile computing memang terus mengalami pertumbuhan. Ini merangsang vendor-vendor baru masuk ke pasar Indonesia,” ujar Budi Wahyu Jati, Country Manager Intel Indonesia.

by a. mohammad bs

Salah satu pemain yang baru masuk adalah PT Leadvision Technology, yang dibesut Chris Iwan Japari, Steven Alexander dan seorang temannya lagi– orang-orang yang sebelumnya berkecimpung sebagai agen komputer. Perusahaan baru ini memperkenalkan notebook merek BYON–singkatan Build Your Own Notebook — yang diposisikan sebagai notebook kelas high-end, dengan harga jual mulai US$ 995 hingga ribuan dolar AS. Read the rest of this entry »


Micros-Fidelio Mahal, Kok Laris?

March 28, 2007

Di kalangan para pengelola bisnis perhotelan, nama aplikasi Fidelio tidak asing lagi. Tak terkecuali di Indonesia, software buatan Micros System Incorporation ini mendominasi pasar. Tengok saja. Di Jakarta, hotel-hotel bintang lima seperti Grand Hyatt, Mandarin Oriental, Le Meridien, Intercontinental, Nikko, Aston, Shangri-La Mulia, JW Marriot hingga Ritz Carlton, telah memakai aplikasi Fidelio untuk menunjang aktivitas bisnis mereka. “Hampir 80% hotel bintang empat dan lima sudah menggunakan aplikasi Fidelio. Dan, kami memang belum konsentrasi untuk menggarap hotel bintang tiga ke bawah,” kata Feri Kurniawan, General Manager PT Micros-Fidelio Indonesia (MFI). Read the rest of this entry »


“Mainan” Baru Willy Sidharta

March 28, 2007

Rupanya, “mainan” baru telah disiapkan Willy Sidharta begitu nanti lengser dari posisi komandan PT Aqua Golden Mississippi (AGM). Meski mengaku sudah mengajukan pengunduran diri sejak 19 Juni 2006, Willy hingga saat ini memang masih menjabat Presdir AGM karena belum ada penggantinya. “Saat ini saya masih menjabat Presiden Direktur Aqua, karena belum ada penggantinya. Tetapi, posisi VP Operasional di PT Tirta Investama (holding), sejak Maret lalu sudah terisi,” ucapnya.

“Mainan” baru yang disiapkan Willy itu ternyata masih berkaitan dengan air minum, yakni bisnis pengemasan untuk air minum dalam kemasan (AMDK). “Dalam hidup, kita harus mempunyai target. Saya pernah berjanji pada diri sendiri dan keluarga bahwa pada usia 60 tahun akan mengundurkan diri sebagai profesional dan akan mengembangkan usaha sendiri,” ungkap Willy, yang pada 10 November nanti genap berusia 60 tahun. Soal mengapa memilih bisnis kemasan, ia menyebutkan harus mengukur keahlian yang dimiliki. “Saya sudah bergelut lama di industri kemasan, sehingga memiliki modal pengalaman. Lagi pula, kalau harus mengembangkan bisnis yang betul-betul baru, saya harus belajar lagi. Itu akan memakan waktu lama dan risiko tinggi, sehingga memakan biaya lebih besar,” paparnya jujur.

Untuk mengembangkan bisnis kemasan ini Willy tidak sendirian, melainkan bermitra dengan tiga orang pengusaha kemasan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Komposisi kepemilikan sahamnya sama, yakni masing-masing 25%. Pada Oktober 2005 mereka telah sepakat membentuk PT Mitra Sentosa Plastik Industri (MSPI). Namun, pembangunan pabriknya baru dilakukan pada Maret 2006. Berlokasi di Semarang, pabrik seluas 5.200 m2 itu dibangun di atas lahan 1,4 hektare. Sebagai bisnis padat modal, investasi yang dibenamkan pun cukup besar. Untuk investasi awal telah digelontorkan Rp 40 miliar, yang digunakan untuk membangun pabrik dan membeli satu unit mesin pembuat kemasan dari Jerman. “Untuk permodalan merupakan gabungan dari modal sendiri, sebagian pinjaman pemegang saham yang tidak berupa modal disetor, dan pinjaman dari bank,” ungkap Willy, yang akan menjabat presdir di perusahaan barunya itu. Adapun break even point ditargetkan dalam lima tahun ke depan.

Dijelaskan Willy, nantinya pabrik seluas itu bisa menampung 6 mesin. Hingga akhir tahun ini ditargetkan MSPI sudah bisa memiliki tiga unit mesin. Ini sesuai dengan peruntukan produk yang akan dihasilkan, yakni kemasan kap (cup), tutup botol dan sedotan (stroll). Satu mesin pembuat kap yang didukung sekitar 80 orang, diperkirakan mampu memproduksi 80 ribu kap per jam, atau 55 juta kap per bulan. “Awal November tahun ini, ditargetkan sudah bisa memproduksi 40%-50% dari kapasitas produksi,” kata Willy.

Menurut Willy, nantinya kemasan yang diproduksi MSPI akan dipasok ke semua level perusahaan AMDK, baik besar maupun kecil. Pertimbangannya, perusahaan besar memang punya volume pemakaian tinggi, tapi pembayarannya kerap terlambat hingga dua bulan. Sementara perusahaan kecil, walaupun ordernya sedikit, pembayarannya sudah dilakukan di muka. Ia mengklaim, saat ini beberapa perusahaan AMDK sudah bersedia mengorder, seperti Club di Ja-Tim, dan Vit (milik AGM).

Walaupun pertumbuhan bisnis AMDK diperkirakan tidak bakal sampai 10%, Willy optimistis bisnis kemasannya bisa berkembang. Pasalnya, ia mengklaim produknya memiliki beberapa keunggulan. Antara lain, memiliki life-weight lebih rendah dibandingkan dengan produk kompetitor. Jika produk lain umumnya memiliki berat 4-4,5 gram, produk kemasan buatan MSPI hanya 3,2 gram. Selain itu, lanjut Willy, nantinya kemasan yang diproduksi pihaknya akan memiliki desain yang spesifik dan bisa dikustomasi (customize) sesuai dengan permintaan. “Dengan life-weight yang lebih rendah pun, harga yang kami tawarkan akan lebih murah dibandingkan dengan produk lain,” ia menegaskan. Jika harga pasaran sekarang Rp 90-100 per kap, pihaknya berani menjual Rp 80 per kap.

Bapak dua anak ini punya obsesi mengembangkan MSPI menjadi perusahaan one stop shopping provider untuk kemasan produk makanan dan minuman (F&B). Jadi, dalam bayangannya sebuah perusahaan bisa membeli botol dan tutupnya, kap dan tutupnya, sedotan, dan sebagainya, cukup dari MSPI, tidak perlu lagi mengorder ke empat-lima perusahaan pemasok. Selain itu, walaupun produk kemasan ini bukan untuk end user, Willy berkeinginan produknya itu nanti akan memiliki merek. “Saya melihat suatu opportunity yang besar di bisnis kemasan seiring perkembangan bisnis F&B yang sangat dinamis,” katanya bersemangat.

Memang, di bisnis AMDK, Willy cukup sarat pengalaman. Bagaimana tidak, selama 33 tahun kakek dari satu cucu ini bergelut di bisnis AMDK, mulai dari bagian pengembangan produk, riset dan pengembangan, hingga pembuatan kemasan untuk AMDK. Willy bergabung dengan AGM sejak Juni 1973 sebagai mandor pabrik hingga kepala pabrik. Puncaknya, pada 1987, Willy didaulat sebagai presdir. Di bawah komando Willy, bisnis AGM terus berkembang, termasuk pengembangan sejumlah perusahaan join ventura dengan investor lokal, seperti di Sukabumi, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi.

Di luar MSPI, sebenarnya Willy juga masih memiliki “mainan” yang lain, yakni bisnis tisu untuk AMDK di bawah bendera PT Civita Flexita. Perusahaan yang dikelola istrinya, Ratih Ningsih Dharmawan itu berdiri sejak 1991 dan hanya memasok kebutuhan tisu untuk Grup Aqua. Menurut Willy, sekitar 60% kebutuhan tisu grup AMDK itu dipasok dari perusahaannya. Saat ini, pabriknya yang berlokasi di kawasan Kapuk, Jakarta, memproduksi 8-9 pieces per bulan, dari total kapasitas produksinya yang mencapai 15 juta pieces per bulan.

Selain itu, sejak 2004, Willy dengan seorang koleganya juga mengembangkan bisnis di bidang permesinan dengan mendirikan PT Red Matrix Indonesia (RMI). Perusahaan ini memproduksi mesin-mesin kecil untuk pengemasan teh, kopi, obat, dan sebagainya. Malah, mulai awal tahun ini RMI bukan sekadar menjual peralatan dan mesin, melainkan juga menawarkan solusi otomasi. Sekarang, PT Frisian Flag, Sariwangi dan Wings Food telah menjadi kliennya. Seperti halnya di perusahaan yang dikelola istrinya, di RMI pun Willy menjabat sebagai preskom, sedangkan operasional bisnis dipegang mitra bisnisnya. “Saya mempunyai misi dalam hidup, supaya bisa berbagi dengan orang lain. Jadi, tujuan utama saya mengembangkan sebuah bisnis adalah agar bisa memberi makan kepada banyak orang. Ini kedengarannya seperti omong kosong, tapi, ya terserah orang yang menilai,” ungkap Willy dengan mimik serius.

(SWA 20/XXI/ 21 September 2006)


Laris Manisnya Apartemen Rp 10 M

March 28, 2007

Ketika pasangan pengusaha sukses Tony-Doris Phua membangun Da Vinci Tower di Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, tiga tahun lalu, banyak kalangan menduga menara megah dengan ornamen Yunani klasik itu hanya akan dipakai sebagai showroom untuk memajang produk-produk furnitur Da Vinci. Maklum, sebagai pemain bisnis furnitur mewah, Da Vinci dikenal memiliki varian produk yang banyak dan selalu berganti-ganti sehingga butuh properti luas untuk memajangnya. Namun, sekarang orang tahu ternyata di menara megah setinggi 36 lantai itu juga ada peruntukan buat unit-unit apartemen supermewah, yang disebut Da Vinci Penthouse (DVP). Read the rest of this entry »


Kiprah Worxcode di Tangan Anak Muda Berprestasi Yahud

March 28, 2007

Tidak banyak perusahaan pengintegrasi sistem (system integrator) lokal yang punya kemampuan di bidang desain otomasi dan konstruksi sistem, sekaligus pengembang software. Worxcode merupakan salah satu “barang langka” itu. Meski usianya relatif muda – berdiri pada Februari 2002 – Worxcode sudah mampu memikat sejumlah perusahaan besar sebagai kliennya. PT Telkom, misalnya, sejak 2002 memercayakan integrasi sistem dan aplikasi untuk kolaborasinya pada Worxcode.

Menurut Ikhsan, Manajer Senior Pengembangan Aplikasi Bisnis dan Sistem Pendukung PT Telkom, Worxcode mengerjakan arsitektur sistem Telkom yang mencakup 30 ribu karyawan secara nasional dengan beragam platform – mulai dari AIX, UNIX, Solaris, hingga Windows – untuk menjangkau 40 server. Rumitnya lagi, sistem di Telkom dirancang untuk menyinergikan beragam aplikasi, mulai dari CRM, customer data management, billing, messaging, workflow, collaboration, enterprise architecture integration, dan modul sistem ERP (khususnya SDM dan sistem finansial). “Kami menilai solusi yang ditawarkan Worxcode cukup bagus dan terpilih. Lebih penting lagi, mereka menawarkan cost yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya,” ungkap Ikhsan.

Selain Telkom, masih banyak perusahaan/institusi besar yang memercayakan pengerjaan integrasi sistemnya ke Worxcode. Sebut saja PT Astra International, IBM Indonesia, Bank Danamon, BNI, Sony Electronics Indonesia, PT Surveyor Indonesia, PT HM Sampoerna, Bank Indonesia dan Badan POM. Tak hanya itu, beberapa perusahaan di luar negeri pun pernah ditangani Worxcode, seperti kantor pusat Hyundai (Korea) dan Banko Central Ng Philippines.

Mencorongnya Worxcode tak bisa dilepaskan dari kiprah lajang kelahiran Bandung, 27 Oktober 1969, bernama Arvino Mudjiarto. “Kami running the business atas dasar kompetensi, inovasi dan fokus pada servis area,” Arvino menegaskan mengenai resep keberhasilan Worxcode.

Dari sisi kompetensi, khususnya di bidang implementasi dan integrasi sistem, kemampuan Arvino tak diragukan lagi. Keahlian coding dan programming telah dia miliki sejak masih di bangku SMP. Tak hanya itu, pengalaman dan jejaringnya yang luas turut mendongkrak citra Arvino di mata para klien. “Saya memiliki penilaian positif tentang Arvino. Dia cerdas, profesional dan didukung kemampuan komunikasi yang bagus,” ucap Ikhsan, memuji.

Pengalaman Arvino dan prestasi kariernya memang cukup membanggakan. Sebelum mengembangkan Worxcode, Arvino sempat mengabdi sebagai profesional di beberapa perusahaan. Setelah mengantongi titel sarjana Ilmu Fisika dari Institut Teknologi Bandung, Arvino langsung bergabung dengan Sony Electronics Indonesia (SEI). Selama tiga tahun di SEI, Arvino beroleh penghargaan dari Sony Corporation di Jepang sebagai Kepala Seksi Termuda (usia 23 tahun) yang mampu mengembangkan dan menyinergikan sistem operasional Sony secara global. Setelah itu, pada 1997 Arvino bergabung dengan Lotus Consulting. Selama tiga tahun berkiprah di perusahaan konsultan TI ini, sejumlah penghargaan dikoleksi Arvino. Antara lain, dua kali dianugerahi Managers Excellence Award; bahkan dinobatkan sebagai Country Manager termuda oleh Lotus Consulting Asia Pasifik di usia 29 tahun.

Tahun 2000, seiring dengan mergernya Lotus dan IBM, Arvino didapuk sebagai CTO IBM Indonesia. Di IBM, Arvino sempat tiga kali dianugerahi Directors Excellence Award dari IBM Asia Pasifik. Di luar itu, ia juga pernah mengukir rekor sebagai Youngest Business Council, Lotus ASEAN (1999); Youngest Technology Council Member, Lotus Asia Pasifik (1998); dan beberapa lagi. Terakhir, pada Mei lalu, Arvino menggaet penghargaan CTO Innovation Excellence Award 2006 dari IBM Inc. (internasional).

Perlu diketahui CTO Award merupakan penghargaan tahunan yang diberikan IBM sejak 12 tahun lalu. CTO Award ini adalah penghargaan tertinggi dari sejumlah kategori yang ada, sehingga sering disebut Oscarnya bidang TI. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang dinilai menunjukkan kehebatan dalam inovasi software dan penerapan arsitektural, yang diperkirakan bisa memberikan pengaruh pada pasar di masa mendatang. Dalam hal ini, Worxcode menjadi perusahaan pertama dari Indonesia yang mampu memenangi penghargaan tersebut. Maklum, dari 10 kategori penghargaan, 8 pemenang di antaranya datang dari Amerika Serikat dan Eropa, serta hanya dua pemenang dari Asia, yakni dari Cina dan Indonesia.

Toh, semua penghargaan itu tak membuat Arvino betah menjadi orang gajian, sehingga ia memilih mengembangkan bisnis sendiri. Didukung ibunya – yang sekarang bertindak sebagai komisaris – sulung dari 6 bersaudara ini mendirikan Worxcode. “Basisnya dari pengalaman. Tetapi orang tua saya pernah berpesan: jika kamu akan masuk ke dunia bisnis, maka harus benar-benar memiliki kompetensi di pasar yang akan dimasuki,” ujar Arvino menirukan.

Kompetensi, pengalaman dan jejaring ini, menurut Arvino, menjadi senjata andalannya dalam meyakinkan serta memasarkan jasa dan produknya ke konsumen. Tak hanya itu, untuk memperkuat posisinya di pasar Arvino menggandeng sejumlah mitra. Antara lain, Worxcode bekerja sama dengan IBM di bidang otomasi arisitektur komponen; dengan Sun Microsystem di bidang infrastruktur business intelligence; dan dengan Microsoft dalam area office web integration. “Sejak awal, area bisnis Worxcode adalah collaboration, workflow, office automation dan sistem produktivitas. Sekarang area itu menjadi aspek kunci di dunia Internet dan sangat booming,” Arvino menjelaskan.

Tak berhenti di situ. Jangkauan pasar pun diperluas. Kini, Arvino tak hanya menawarkan jasa dan produknya ke segmen korporat (perusahaan skala besar), tapi juga ke small medium business (UKM). “Ke depan, kami akan provide the best software yang juga bisa dipakai oleh SMB,” ia menandaskan. Produk barunya itu dinamakan Workbench, yakni semacam aplikasi electronic workdesk yang terintegrasi. Melalui Workbench, Arvino mengklaim, segala pekerjaan, informasi, aktivitas bisnis dan dokumen bisa dikelola dengan gampang. Rencananya, produk yang diharapkan bisa masuk ke semua skala bisnis ini mulai dipasarkan awal tahun depan.

(SWA 15/XXI/ 27 Juli 2006)