Andreas pun Berlabuh di Dell

March 21, 2007

Kabar mengejutkan bagi manajemen Hewlett-Packard (HP) — baik di Indonesia maupun di kantor pusat — ketika salah satu pilarnya di Indonesia, Andreas Diantoro, menyatakan mundur dari HP pada akhir Oktober 2005. Yang lebih mengejutkan, Andreas bergabung dengan salah satu musuh abadi HP dalam hal produksi dan penjualan, seperti personal computer (PC) built-up dan server, Dell. Read the rest of this entry »


Mac, Apel Coak yang Mulai Ngetren

March 21, 2007

Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di kawasan Tangerang, Banten, tampak serius mengerjakan tugas di depan notebook mungilnya yang berwarna putih, dengan logo mereknya yang khas: sebuah apel yang ada coak-nya.

Apple Macintosh, merek notebook tersebut, belakangan memang tak lagi hanya digunakan oleh sekelompok kalangan, seperti para pekerja desain grafis, movie maker, ataupun rumah produksi (production house). Komputer Macintosh – yang familier disebut Mac – sekarang sudah banyak digunakan oleh masyarakat umum, baik kalangan mahasiswa, profesional maupun eksekutif muda. “Betul, sekarang Mac banyak diminati orang di luar desainer grafis,” ujar Jeffry Waluyo, Manajer Pemasaran PT Padang Digital Indonesia (PDI) – salah satu distributor produk Apple di Indonesia.

Para peminat Mac umumnya karena ingin menikmati perpaduan kecepatan teknologi dan gaya hidup. Andre, mahasiswa semester tiga perguruan tinggi terkemuka di Tangerang, misalnya, mengaku memakai Mac karena suka tampilannya, keren. “Jadi pede kalau membukanya di kafe atau di tempat-tempat nongkrong,” celoteh Andre seraya mengatakan bahwa ia juga ingin belajar grafis.

Sekarang ini Mac memang sudah bisa running pada dua sistem operasional (dual operating system/OS), yakni: Mac OS – yang terbaru Mac OS X versi 10.4 (Tiger); rencananya, awal 2007 bakal keluar versi 10.5 (Leopard) – dan Windows XP. Dengan Windows ini apa pun bisa masuk: Microsoft Office, AutoCad atau 3D Mac. Mulai diterapkannya dual OS pada Mac ini sejalan dengan kebijakan radikal yang ditempuh pemilik Apple Computer Inc., Steve Jobs.

Seperti diketahui, sejak Juni 2005, perusahaan yang berbasis di Cupertino, Kalifornia itu mengalihkan seluruh produk buatannya ke prosesor buatan Intel Corp. Sebelumnya, Mac menggunakan prosesor PowerPC buatan IBM/Motorola (G3 = IBM; G4 = Motorola; G5 = IBM). Hasilnya, pada Januari Apple telah merilis Mac pertama yang menggunakan prosesor Intel Core Duo, yakni iMac untuk desktop dan MacBook Pro untuk laptop. “Jadi, dengan Mac sekarang pelanggan diberi pilihan. Selain itu, dengan menggunakan teknologi Intel ini Apple ingin memperluas pasar, yakni memberi kemudahan bagi pengguna Windows,” papar Jeffry.

Keseriusan Apple dalam memperluas dan menangkap peluang pasar, misalnya, ditunjukkan dengan menambah jumlah distributor di Indonesia. Selain PDI yang telah mendistribusikan produk Apple sejak 1999, maka sejak pertengahan tahun lalu ditunjuk pula Harrisma dan CipTek.

Selain terjadi pergantian prosesor, lanjut Jeffry, sekarang Mac banyak dilirik masyarakat umum karena dari sisi harga lebih kompetitif. Maklum, sebelumnya Mac dicitrakan sebagai PC eksklusif dengan harga mahal. Akan tetapi, sekarang hanya dengan mengeluarkan Rp 10 juta konsumen sudah bisa membawa laptop MacBook, yang memiliki prosesor Intel Core Duo 1,83 GHz, harddisk 60 Gb dan memori 512 Mb.

Daya tarik lainnya? Desain. Selama ini desain komputer Mac memang dikenal unik dan menarik. Desktop iMac, misalnya, dirancang sangat praktis dan ringkas. Sebab, CPU-nya disatukan dengan monitor yang berdiri pada satu kaki, sehingga tongkrongannya menarik dan menghemat ruang. Lagi pula, seperti diklaim Jeffry, Mac dijamin tidak akan terinfeksi virus. Pasalnya, Mac ini under Unix sehingga sistem keamanannya lebih bagus dan tertutup. “Mac sudah melakukan pergantian prosesor, harganya kompetitif, desainnya menarik, dan tidak terinfeksi virus,” kata Jeffry menyimpulkan. “Lebih dari itu, Mac sekarang sudah menjadi gaya hidup. Itu menjadi dorongan tersendiri bagi orang-orang untuk menggunakannya,” ia menambahkan.

Guna menangkap antusiasme pasar tersebut, lanjut Jeffry, pihaknya sejak beberapa waktu lalu mengadakan road show ke berbagai sekolah atau perguruan tinggi di Jakarta, seperti sekolah Bina Harapan, Universitas Pelita Harapan dan Universitas Atma Jaya. “Kampanye yang kami lakukan lebih pada upaya sosialisasi dan cara penggunaan Apple untuk keperluan sehari-hari,” ucapnya. Adapun untuk kegiatan promosi lebih berkonsentrasi ke penjualan langsung, melalui kerja sama dengan sejumlah bank: Bank Panin, Bank Internasional Indonesia, Bank Eksekutif, ANZ, Citibank, Adira – di samping beriklan di majalah yang disesuaikan dengan segmen pasar yang dibidik.

Diakui Jeffry, bertumbuhnya minat orang di luar desainer grafis terhadap Mac ini berimbas pada penjualan produk itu sendiri. “Dengan tumbuhnya newcomer, pastinya penjualan pun meningkat,” Jeffry menegaskan. Bahkan, di tingkat global peningkatan penjualan Mac mencapai 50% dalam setahun terakhir. Sementara di Indonesia peningkatannya di kisaran 30%-50%. Jumlah penjualannya sekitar 100 unit lebih per bulan, di mana lebih dari 50% dikontribusi dari penjualan notebook. Angka penjualan itu memang sangat kecil dibandingkan dengan penjualan PC merek lainnya. Pasalnya, menurut Jeffry, penguasaan pasar Apple masih di bawah 10% dari total penjualan komputer di Indonesia. Alasannya, selama ini Mac terkesan eksklusif dan belum ditujukan kepada masyarakat luas. Ke depan, Jeffry menargetkan penjualan bisa meningkat 30%-50%. “Kami optimistis tahun depan penjualan akan terus meningkat. Ini sejalan dengan teknologi Apple yang terus inovatif dengan harga yang kompetitif. Jadi kepada pelanggan ditawarkan sesuatu yang lebih untuk memilih lebih,” ucapnya bersemangat.

(SWA 26/XXI/ 11 Desember 2006)


Potret Kebijakan TI Korporat

March 21, 2007

Meskipun ada kecenderungan belanja TI meningkat, survei Kebijakan TI Korporat ini menunjukkan peningkatannya tidak signifikan dan nilai (rupiah) belanjanya juga relatif masih kecil. Alhasil, kalangan manajemen memang dituntut harus lebih pandai dan cermat dalam mengambil kebijakan belanja TI. Read the rest of this entry »


Check-in Tanpa Tiket? Nggak Masalah!

March 21, 2007

Beberapa maskapai penerbangan yang beroperasi di Tanah Air mulai menerapkan sistem e-ticketing, dengan harapan bisa menekan biaya operasional. Lantas, apa keuntungannya buat konsumen? Read the rest of this entry »


Pertaruhan Capriasi Mendongkrak Daya Saing

March 21, 2007

Keunggulan kadang memang harus dicapai dengan melakukan sesuatu yang berisiko. Karena alasan itu, Capriasi rela menjadi proyek percobaan agar bisa menjadi perusahaan MLM lokal yang lincah dan mampu bersaing dengan nama-nama besar. Read the rest of this entry »