e-Kebumen Community, Aksi Lokal Berprestasi Internasional

Keinginan memajukan Kebumen lewat pengembangan e-community justru melambungkan nama kabupaten ini di ajang internasional. Bagaimana Bambang Dwi Anggono, sang perintis, bersama timnya mengembangkannya?

Pada 8 Mei lalu, Bupati Kebumen Rustriningsih dan rombongan akhirnya bisa bertolak ke Stockholm, Swedia. Namun, ini bukan untuk piknik ataupun studi banding, melainkan menghadiri putaran final Stockholm Challenge Award (SCA) 2006. Sebenarnya, Rustriningsih hampir urung menghadiri ajang tahunan yang setara dengan World Internet Society Summit itu. Pasalnya, tak ada dana untuk pergi ke sana. Untungnya, PT Telkom mau mensponsori dengan memberikan dana Rp 60 juta. Harap maklum, Kebumen merupakan salah satu kabupaten termiskin (ketiga) di Jawa Tengah. Dana anggaran untuk pengembangan teknologi informasi kabupaten ini hanya Rp 200 juta/tahun — jauh di bawah Kabupaten Cilacap, misalnya, yang anggaran TI-nya mencapai Rp 7 miliar/tahun.

Toh, perjuangan itu berbuah manis. Program e-Kebumen Community (Kebumen Cyber), yang disodorkan kabupaten ini di ajang lomba pemanfaatan TI berskala internasional itu terpilih sebagai salah satu pemenang SCA 2006. Terutama, karena semangat dan kreativitasnya dalam mengembangkan dunia pendidikan. Jelas, keberhasilan Kebumen cukup membuka mata dunia. Pasalnya, pada ajang SCA kali ini e-Kebumen Community masuk putaran final mengalahkan sekitar 3 ribu peserta dari seluruh dunia. Dari jumlah itu, 600 peserta berasal dari Indonesia. Namun, pada tahap seleksi berikutnya hanya 6 peserta yang tersisa dari Indonesia, termasuk dua peserta dari Kebumen: e-Kebumen Community dan Urunan Project. Setelah panitia melakukan seleksi tiga tahap, terjaring 151 finalis dari 53 negara. Dari Indonesia diwakili e-Kebumen Community dan Yayasan Mitra Netra.

Yang pasti, keberhasilan e-Kebumen Community di ajang internasional mampu memberikan pencerahan bagi sekitar 1,25 juta penduduk Kebumen. Masyarakat Kebumen kini lebih sadar pentingnya pemanfaatan TI bagi pengembangan dunia pendidikan. Minat mereka untuk memanfaatkan Internet sebagai media pendidikan pun tumbuh.

Kehadiran e-Kebumen Community tidak bisa dilepaskan dari sosok Bambang Dwi Anggono. Bapak dua anak kelahiran Semarang, 16 Mei 1970, inilah yang merintis dan mengembangkan cyber community itu. “Komunitas e-Kebumen lahir semata-mata atas kesadaran dan keinginan meningkatkan penetrasi TI di Kebumen, khususnya di bidang pendidikan,” ujar Bambang.

Latar belakangnya, seperti diungkapkan Bambang, selama ini masyarakat Kebumen relatif tertutup dari akses informasi. Internet di daerah ini tergolong barang mahal yang tak terjangkau warga. Terlebih setelah Wasantara Net — penyedia jasa Internet milik PT Pos Indonesia — ditutup pada 2002. Sebagai gambaran, ketika masih ada Wasantara Net, tarif warnet berada pada kisaran Rp 6 ribu/jam. Setelah Wasantara Net tutup, tarif warnet Rp 10-12 ribu/jam.

Mahalnya akses Internet ini mengimbas ke dunia pendidikan. Kurikulum pendidikan yang memasukkan TI sebagai pelajaran wajib semua sekolah di Kebumen pun terhambat. Pihak sekolah mesti merogoh saku lebih dalam untuk bisa mengakses Internet. Rata-rata sekolah mengalokasikan dana Rp 500 ribu-2 juta/bulan untuk memperoleh akses Internet melalui Telkomnet Instan (layanan akses dari PT Telkom). Padahal, biaya akses tersebut hanya disediakan untuk lima unit PC. Sementara itu, tidak sedikit sekolah yang memiliki lebih dari 20 unit PC. Dengan perbandingan itu, maka biaya operasional penggunaan Internet menjadi sangat mahal.

Karena itu, seperti dikatakan Bambang, pihaknya berpikir bagaimana agar tersedia akses Internet murah yang bisa mendukung dunia pendidikan dan terjangkau masyarakat luas. Wacana pembentukan e-community pun bergulir. Menurutnya, ide mengembangkan e-Kebumen bermula saat ada acara Kebumen Expo 2005, yang diikuti sejumlah penjual komputer dan penyedia jasa akses Internet. Namun, pameran itu sepi pengunjung dan pembeli. Pertanyaan pun meluncur dari para peserta pameran, kenapa animo masyarakat begitu rendah? “Saya katakan, kalau masyarakat tidak tahu TI, siapa yang mau belanja. Karenanya, mereka perlu diedukasi. Nah, cara paling strategis untuk masuk ke bidang TI adalah melalui pendidikan. Dengan begitu, akan ada dua sasaran yang bisa dicapai, yakni turut membantu mencerdaskan masyarakat dan aspek bisnis akan mengikutinya. Lalu, saya ajak mereka mengedukasi pasar bersama-sama,” Bambang memaparkan.

Ajakan Bambang untuk mengedukasi pasar mendapat sambutan positif. Sebagai langkah awal, disepakati untuk menyelenggarakan lokakarya dan seminar. Guna mendukung kegiatan itu, ia meminta mereka mau memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan. Mereka pun menyetujui: ada yang menggratiskan bandwidth 2 Mbps untuk beberapa hari, ada yang menyediakan peralatan koneksi, seminar kit hingga makanan ringan, dan sebagainya. Untuk lokasi kegiatan, Bambang mendekati SMAN 1 Kebumen supaya mau meminjamkan aula. Lalu, sekolah-sekolah lain di kota itu didekatinya agar mau meminjamkan komputer.

Dalam kegiatan selama dua hari itu diajarkan dasar-dasar Internet, jaringan kabel dan wireless LAN, serta e-learning. “Selama kegiatan, kami tidak melibatkan bupati, Dinas P dan K atau unsur pemerintahan lainnya. Apalagi, menggunakan dana-dana APBD. Saya sendiri berperan sebagai unsur masyarakat. Ini benar-benar kegiatan yang bersumber dari masyarakat,” ujar Bambang, yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Data Elektronika Badan Informasi Komunikasi Pengelolaan Data Elektronika Pemda Dati II Kebumen. Diklaimnya, antusias warga Kebumen mengikuti kegiatan itu sangat tinggi. Jumlah pengunjungnya ribuan. “Nah,” kata Bambang, “pada kesempatan ini saya usulkan, ‘bagaimana kalau kita bikin sebuah komunitas’.”

Lalu, disepakati pada 12 Agustus 2005 dibentuk e-Kebumen Community. Dikomandani Bambang, komunitas ini mulanya digerakkan 13 orang, yang mau bekerja tanpa pamrih. Sejumlah kegiatan dan terobosan pun dilakukannya. Tak hanya itu, untuk memperkuat keberadaan e-community ini, Bambang melibatkan sejumlah pelaku bisnis. Antara lain, perusahaan penyedia layanan Internet (ISP) dari Yogyakarta, Jogja Media Net. Responsnya positif. Dengan membentuk Kebumen Media Net (KMN), sebagai unit usaha, ISP ini bersedia memberikan bandwidth 2 Mbps gratis untuk mendukung kegiatan Komunitas e-Kebumen. Selain itu, KMN juga menyediakan fasilitas mobile VSAT untuk mendukung kegiatan roadshow acara lokakarya dan seminar yang diselenggarakan e-Kebumen di daerah-daerah yang tidak memiliki jaringan komunikasi kabel. “Kami memang menyediakan bandwidth support untuk koneksi Internet secara gratis. Ini semata komitmen kami sejak awal untuk turut mengembangkan e-Gov dan Komunitas e-Kebumen,” ujar Arie Subowo, Manajer Area KMN. “Manfaat akan kami peroleh dalam jangka panjang,” ia menambahkan, yakin.

Untuk pengembangan dan pengelolaan website komunitas, Bambang mengajak Metacom, perusahaan web developer. Menurut Joko Waluyo, Dirut Metacom, untuk mendukung pengembangan TI di Kebumen ini, pihaknya turut membantu dalam mendesain, mengembangkan dan mengelola (termasuk urusan trouble shooting) website e-Kebumen.net. Selain itu, Metacom juga aktif mensponsori setiap kegiatan lokakarya atau seminar yang diadakan komunitas jagat maya ini. “Kebetulan saya kenal Pak Bambang. Jadi, ketika beliau menawarkan ide dan mengajak berpartisipasi, saya mendukungnya sesuai dengan kemampuan. Tidak ada imbalan atau perjanjian bisnis. Ini semata-mata bentuk partisipasi untuk mendukung perkembangan TI di Kebumen,” Joko menjelaskan.

Lantas, bagaimana cara Bambang meyakinkan para pelaku bisnis agar mau terlibat dalam proyek berbau sosial ini? Menurut alumni Ilmu Administrasi FISIP Universitas Dipenogoro ini, pendekatan yang dilakukannya lebih menekankan hubungan mutualisme: semua saling membutuhkan dan bisa memperoleh manfaat yang sama. Di satu sisi, jabatan birokrasi yang dipegangnya sekarang memungkinkannya bisa leluasa masuk ke semua unsur masyarakat: dunia usaha, pendidikan, birokrasi dan masyarakat. “Kebetulan, posisi saya sebagai Kepala Bidang PDE cukup strategis. Posisi itu saya manfaatkan untuk tujuan baik. Terus terang, saya menggunakan sedikit kekuatan birokrasi yang saya miliki. Tetapi, tujuannya sama sekali bukan untuk menekan, hanya mengajak. Jadi, tidak ada paksaan atau tekanan,” Bambang memaparkan.

Untuk dunia pendidikan, yang dilibatkan langsung adalah kepala sekolah, staf tata usaha, guru, siswa dan orang tuanya. “Upaya melibatkan orang tua dalam kegiatan workshop dimaksudkan agar mereka memahami apa kebutuhan anak-anaknya dan mengerti apa yang bisa diperoleh dari pendidikan TI.”

Untungnya, uluran tangan dari pihak lain juga bermunculan. Salah satunya, untuk meningkatkan kemampuan para guru yang terlibat dalam e-Kebumen Community, ada bantuan dari Universitas Indonesia, khususnya Departemen Elektro. Menurut Arief Udiarto, Staf Pengajar Departemen Elektro UI, sejak e-Kebumen terpilih sebagai finalis SCA, pihaknya langsung berinisiatif mendukung kegiatan yang diselenggarakan komunitas itu. Bentuk dukungan yang diberikan UI adalah memberi materi serta mendedikasikan empat staf Departemen Elektro dan beberapa mahasiswa sebagai trainer. Di samping itu, UI juga membantu akomodasi untuk penyelenggaraan lokakarya.

Langkah terbaru, telah disepakati rencana UI membangun telecenter bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang memiliki minimal 10 PC. Aktivitas operasional telecenter ini akan menyerupai warnet, sehingga siswa dan masyarakat umum bisa mengaksesnya. Rencananya, pihak UI akan merangkul Telkom agar mau memberikan akses Internet murah. “Sejalan dengan program community development, kami menilai bahwa Kebumen memiliki kompetensi yang bagus untuk bisa dikembangkan,” ujar Arief.

Yang pasti, aktivitas e-Kebumen Community yang dirintis Bambang cukup mampu memberi warna baru di kabupaten ini. Kini, sekolah-sekolah di kabupaten itu bisa mengakses Internet dengan tarif lebih murah dan kecepatan akses lebih tinggi. Sebagai gambaran, untuk sekolah yang punya 30 PC di lab komputernya, biaya akses Internetnya per bulan sekitar Rp 700 ribu.

Keistimewaan diperoleh SMK Nawa Bhakti. Maklum saja, sekolah ini dijadikan proyek percontohan pengembangan sistem pengajaran TI di Kebumen. Sekolah ini cukup membayar Rp 300 ribu/bulan ke KMN untuk mendapatkan akses Internet dengan kecepatan akses hingga 400 Kbps. Menurut Sabarno, Kepala Sekolah SMK Nawa Bhakti, kini 52 PC di sekolahnya sudah terkoneksi dengan Internet melalui sistem LAN. “Terus terang, Komunitas e-Kebumen sangat membantu perkembangan dunia pendidikan. Kami bisa merasakan manfaatnya yang luar biasa. Anak-anak bisa mengembangkan bakatnya,” ujar Sabarno.

Biaya sewa Internet melalui warnet di kabupaten ini pun terpangkas hingga sepertiganya. Sebelumnya biaya sewa Internet mencapai Rp 10-12 ribu/jam, sekarang hanya Rp 3.000/jam. Imbasnya, kini warga Kebumen pun doyan browsing Internet. Sekarang jumlah pengunjung warnet di Kebumen mengalami peningkatan signifikan. “Saya sudah tanya kepada para pengelola warnet, mereka mengatakan sekarang warnetnya semakin ramai. Bahkan, pada hari-hari tertentu sampai ngantre,” Bambang mengklaim sambil tersenyum bangga. Adapun biaya berlangganan Internet untuk keluarga bisa ditekan menjadi Rp 275 ribu/bulan flat 24 jam. Padahal, kalau menggunakan layanan akses Telkomnet Instan, sebagai bandingan, tarifnya Rp 10 ribu/jam.

Boleh jadi, inilah berkah buat kalangan ISP. Buktinya, klaim Bambang dibenarkan Arie. Kebetulan perusahaan ISP yang dikelolanya juga membuka layanan warnet di Kebumen. Menurut Arie, awalnya jumlah pengunjung warnetnya hanya 4-5 orang/hari, sekarang rata-rata lebih dari 20 orang/hari. Bahkan, pada hari tertentu mesti antre. Terutama, para pelajar. Boleh jadi, karena pelajar diberi harga khusus, Rp 2.500/jam. “Sekarang pengunjung warnet meningkat drastis. Sebelumnya, para pelajar sangat pasif. Sekarang mereka sangat antusias,” ucap Arie. Selain itu, pelanggan koneksi personal pun mulai tumbuh. Sekarang sudah banyak pengakses Internet perorangan di Kebumen yang menggunakan layanan KMN. Sayangnya, Arie enggan menyebut jumlah pelanggan personal KMN.

Kendati begitu, tetap saja tidak semua sekolah dan anggota masyarakat mampu menyewa Internet. Namun, Bambang tak kurang akal. Menggandeng KMN, dibuatnya program Cyber Monday, yakni layanan akses Internet gratis setiap Senin selama 6 jam, pukul 9 pagi sampai tiga sore. “Saya berharap, nantinya setiap warnet bisa menggratiskan akses Internet dua jam per hari. Kami juga akan membangun hotspot gratis di area Alun-alun Kebumen khusus untuk malam Minggu,” kata Bambang mengungkap rencananya.

Tak hanya itu. Supaya kegiatan pendidikan bisa menjangkau seluruh pelosok Kebumen, e-Kebumen Community menggandeng Ratih TV untuk membuat program acara televisi Kebumen Pintar. Lalu, agar tayangan pendidikan di Ratih TV dapat ditangkap dan dinikmati seluruh warga, tiap sekolah diberi pesawat televisi dan antena parabola. “Dengan memanfaatkan Ratih TV, masyarakat Kebumen pada umumnya bisa menyaksikan pendidikan melalui media TV di channel Ratih TV,” kata Bambang. Acara Kebumen Pintar di Ratih TV disiarkan setiap Selasa, Kamis dan Sabtu pukul 14.30.

Kreativitas Bambang tak berhenti di situ. Untuk menggali potensi dan kreativitas siswa, ia mengembangkan Majalah Dinding Online (MDO), yang disediakan melalui situs e-Kebumen Community. MDO merupakan fasilitas bagi siswa di seluruh Kebumen untuk mengekspresikan kreativitas. Bentuk karya yang harus dikirimkan secara online ini beragam: dari artikel, berita kampus, kegiatan kampus, puisi, tip & trik, lukisan hingga kaligrafi. “Karya yang dianggap bagus akan dinilai untuk mendapatkan reward berupa souvenir dan uang pembinaan dari sponsor,” ucapnya.

Bambang dan timnya pun mengungkapkan sejumlah rencana untuk pengembangan e-Kebumen. Antara lain, membuat materi pelajaran berbasis TI dan multimedia (e-learning) untuk kegiatan belajar mengajar melalui media komputer dan televisi, mengembangkan kursus online melalui fasilitas conference dari Yahoo Messenger dengan menyediakan chat room untuk pembelajaran TI secara terjadwal, dan membangun jaringan TI antarsekolah dengan memanfaatkan fasilitas VoIP.

Salah satu proyek prestisius Bambang dan timnya saat ini adalah pembangunan gedung pusat studi e-Kebumen, yang akan disebut Kebumen ICT Garden. Menurut Bambang, proyek ICT Garden ini diperkirakan menelan investasi Rp 2 miliar. Penyandang dananya adalah salah satu lembaga nirlaba dari Swedia. Biaya operasional, yang diperkirakan Rp 10 juta/bulan, akan disubsidi Pemda Kebumen. “Kebumen ICT Garden ini akan dimanfaatkan sebagai pusat pembelajaran TI masyarakat Kebumen, penetrasi open source dan berbagai kegiatan pendidikan berbasis TI lainnya,” ungkapnya. Namun, ia mengakui, semua rencana itu tidak akan berhasil tanpa dukungan semua pihak. “Karenanya,” kata Bambang, “saya mengajak semua pihak, siapa pun, untuk berpartisipasi.”

Nah, para vendor TI, baik hardware maupun software, tidakkah Anda tertarik bergabung? ***

Fasilitas e-Kebumen.net

Segala bentuk kegiatan e-Kebumen Community terekam dalam portal komunitas yang beralamat di www.e-kebumen.net. Dalam website ini dapat ditemukan beragam kanal informasi dan interaksi. Selain kanal informasi mengenai e-Kebumen itu sendiri (About e-Kebumen) dan berita yang terjadi di daerah itu (Info Kebumen), juga tersedia berita nasional seputar pendidikan dan teknologi informasi.

Ada pula kanal-kanal yang mewadahi aktivitas warga Kebumen. Sebagai media pendidikan dan pembelajaran, khususnya bagi para pelajar, portal ini menyediakan fasilitas seperti Majalah Dinding dan Mading Gambar. Di media ini, para pelajar Kebumen bisa mengaktualisasi bakatnya, baik dalam bentuk tulisan artikel maupun gambar (karikatur). Nah, untuk merangsang minat para pelajar dalam menuangkan ide di website tersebut, pihak pengelola komunitas memberikan beragam hadiah dan cenderamata.

Di portal komunitas ini terdapat pula Forum Diskusi Masyarakat ICT Kebumen, informasi mengenai situs pendidikan, situs bursa kerja hingga beragam mailing list yang bisa diikuti oleh para pengakses. Bahkan, e-Kebumen.net juga menyediakan ruang chatting.

7 Responses to “e-Kebumen Community, Aksi Lokal Berprestasi Internasional”

  1. celpjefscycle Says:

    Thanks for information.
    many interesting things
    Celpjefscylc

  2. torik Says:

    Semangat terus kebumen semoga makin maju kebumen, dan makin beriman…

  3. Henry Says:

    Mohon maaf yang sebesar-besarnya…… Dan tanpa menutup mata dengan jasa pak Bambang. Saya sebagai warga kebumen, sungguh-sungguh bangga dengan prestasi Kebumen tersebut. tetapi sekaligus heran. banyak diblog2 ditulis tentang prestasi e-kebumen seperti : Berhasil membuat melek teknologi wong bumen, memangkas biaya internet hingga 3 ribu/jam, layanan hotspot disekitar alun-alun kebumen, program Cyber Monday…..

    Apa iya begitu…. setahu saya sebagai wong kebumen asli, tulen, dan dilahirkan di kebumen, harga sewa di warnet turun karena semakin banyaknya pemain yang masuk di bisnis warnet. apalagi setelah Kebumen Media Net (KMN) selaku ISP yang “berkuasa” di kebumen, dibantai -nyaris- habis oleh Telkom SPEEDY. tarif internet langsung anjlog.

    hotspot yang katanya ada dialun-alun kebumen (bahkan ada spanduk bertuliskan “area hotspot) waktu saya dan temen bawa laptop ke alun-alun sambil makan jagung bakar, ternyata BLANK sama sekali…..

    Meleknya wong kebumen pada teknologi saya yakin karena peranan warnet yang TUMBUH DENGAN SENDIRINYA, tanpa dibantu pemerintah kebumen, tanpa komuniti-komunitian, bahkan harus kucing-kucingan dengan polisi yang merazia software bajakan….

    dan masih banyak lagi keheranan saya…. koq bisa-bisanya e-Kebumen masuk sebagai finalis. Apa ya gak dicek kebenaran klaimnya…

    Mohon maaf, jika ternyata saya salah, ini cuma uneg2 saya pribadi sebagai wong bumen yang cinta dengan Kebumen.

  4. s1wan Says:

    kapan TI menjamah sekolah dasar.jangan cuman smp or slta smk aja.aku sbgai orang sd mrasa dianaktirikan

  5. Moch Syahrun Says:

    lam kenal dari cah kebumen kunjungi blog aq ya http://www.mdefahome.wordpress.com ok

  6. Yasin Says:

    Sebagai bagaian dari warga negara yang baik niat unutuk mengingkatkan warga agar melek teknologi sih bagus baget! pernah ketika saya penelitian kemasyarakatan dikebumen kpondisi masyarakatnya sungguh memperihantin kan masa warga diajak berbincang-bincang az kok takut
    yang perlu ditekankan oleh pemda adalah bagai mana peningkatan kendidikan warga jangan jangan pemkab hanya ingin ga mau ketinggalan dengan style dunia cyber agar g dikatakan ketingalan pada hal warga belum mampu untuk masalah internet-internetan

  7. agus Says:

    jika IT menjamah kebumen pastinya ada pendidikan bagi warga dunk! masa perangkat infra strukturnya dipersiapkan SDM’NYA di abaiakan kan percuma kalo mau membangun masyarakat yang melek dunia Cyber

Leave a Reply